Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Aku menyukaimu

“ I like you ... tak ada alasan lain karena aku ingin. Aku ingin menyukaimu dan aku senang akan perasaan ini. Tak perlu mengubah apapun tetaplah diam dan biarkan aku terus menyukaimu. Aku suka semua tentangmu dan kamu cukup berbuat seperti biasa tak perlu ngapa-ngapain aku sudah suka. “ Kuberikan semua yang aku miliki padamu. Tak sedikitpun ku sembunyikan, pokoknya kalau milikku berarti milikmu. Aku sepenuhnya milikmu. Aku tak tahu hal apa yang telah kau lakukan padaku. Aku begitu menyukaimu, sampai bingung bagaimana untuk mengungkapkannya. Terkadang aku menangis dan bersedih sendiri. Saat mata kita beradu, saat itulah aku merasa hati ini akan meledak. Terdengar sangat menjijikkan bukan? Hahahahaha.... tapi aku sama sekali tidak berbohong. Rasanya ada sesuatu yang sangat sulit dijelaskan. Hal itu semacam apa ya? Ah aku tak tahu pasti, pokoknya ada hal yang begitu berbeda ketika mataku dan matamu bertemu. Sungguh perasaan yang sangat aneh. Tubuhku terasa hangat dan hatiku sea...

Lima Juta Waktu Yang Hilang

LIMA JUTA WAKTU YANG HILANG Perempuan itu menatapku tajam. Sorot matanya tampak redup dan sayup. Kerutan di sekitar matanya terukir dengan jelas. Ia berjalan perlahan ke arahku. Jalannya tertunduk-tunduk, bungkuk punggungnya. Langsung ku berjalan ke arahnya dengan sedikit lari kecil. Ia tersenyum, kerutan di pipinya terlihat amat jelas. Putih sekali giginya, terlihat masih kokoh juga. Aku hampir tertawa, melihat ompongnya yang tersembunyi tetapi tetap kelihatan. Hanya senyum saja yang ku perlihatkan dengan sedikit sumringah. “Kenapa ditahan? Kalo mau ketawa ayo ketawa,” ucapnya. Aku langsung memeluk pinggangnya yang ramping. Tulang-tulang tubuhnya menonjol sedikit tajam, membuat tanganku seperti berada diantara benda tajam. Tak terasa sudah lima dekade ini aku tak memeluk tulang-tulang yang tajam ini. Ia meneteskan air mata sambil tersenyum. “Jangan nangis dong, jelek kan jadinya,” hiburku sambil mengusap surai rambut putihnya. “Kamu sudah dewasa sekarang, matamu dulu pen...