Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Bingung

 Aku termenung Dalam waktu yang cukup tanggung Entah apa yang ada dalam pikiran Yang aku tahu aku hanya bingung Pikiranku seperti berputar ke satu tempat  Tanpa ada pusat  Membuat hati jadi penat

Gadis Kecil

Sekayu, 4 Agustus 2020 Ciw “Gadis Kecil” Tentang semua hal yang hiruk pikuk akhir-akhir ini Tentang semua kejadian yang diluar kendali Tentang liarnya imaji Dan tentu saja tentang kau yang tersakiti   Aku ingin merangkulmu Kemarilah, peluk aku Semua yang terjadi, bukan salahmu Tak apa menangis karena hal ini memang cukup pantas untuk ditangisi Ayo terima semua ini Jangan terus-menerus berlari Ini hanya akan menyakiti Semua ada batasnya, termasuk menyakiti diri sendiri   Untuk kau gadis kecil Pegang tanganku, ia cukup hangat untuk hati dinginmu Marah dan kesal itu sudah pasti terjadi Tapi sekali lagi aku mohon, jangan pernah menyalahkan dirimu Semua ini terjadi diluar kendalimu Kamu tidak salah dan tidak perlu menyalahkan siapapun Semuanya hanya terjadi begitu saja   Hey gadis kecil, Sekarang kamu jangan lari lagi yaa ... Saatnya menerima dan berdamai dengan luka Pada akhirnya, waktu yang akan menyembukan luka

Kecewa

AKU                    K               E          C           E          W          A Sungguh Tiada tandingnya Kau lah yang buatku kecewa         Ciw, Sekayu 15/1 2020                           

Datang lalu pergi

Ketika tiada tangan yang sudi meraih, disitu kau meraihku Ketika tiada pintu yang terbuka, disitu kau memberi rumah Ketika tiada pundak tuk bersandar, disitu kau merangkulku Bahkan ketika tiada lagi kehangatan, kau bahkan memelukku dengan erat Lalu kenapa ketika tiada yang datang, kau datang seolah akan menetap Memberiku kasih, lalu kau tinggal pergi. Ciw, Sekayu 15/1 2020

Gugur

Ketika rumah yang kau anggap rumah berubah jadi asing. Ketika itu kau merasa tiada lagi persinggahan. Bagaimana akan singgah? Kalau tempat singgah seolah sirna. Hilang dan berubah menjadi amat sangat lain. Kecewa bukan lagi yang kau rasa. Bukan lagi sakit atau pun terluka. Bahkan, ingin rasanya mengutuk kosa kata yang bahkan tak ada kata yang tepat untuk melukiskan betapa kamu kecewa. Lebih-lebih sakit yang kau rasa,seolah semua sakit yang selama ini kau anggap sakit hanyalah sebuah lelucon. Sekarang kau benar-benar merasa hancur. Semua kebahagiaan seakan gugur. Lebih parah lagi kau dituntut untuk tegar padahal hati bergetar. Bukan getar yang membuat terpacu, tetapi getaran yang siap untuk membuatmu jatuh. Seolah hidupmu sampah, sampai-sampai orang yang benar-benar kau percaya, sampai hati menginjak-injak kepercayaanmu itu. Sungguh benar ucapan ahli kata, orang-orang yang kau sayang lah yang akhirnya mampu membuat kau kecewa. Oh sungguh derita dan kecewa yang kau rasa, semoga lekas...

Ah Sial

Sial Temanku semalam bercerita tentangmu Kata nya sekarang kau inilah kau itulah Lanjut lagi ceritanya kau itulah kau inilah Sampai selesai ceritanya aku kembali menuai kesakitan Agak lebay kalau aku bilang sakit Aslinya aku hanya termenung di kamar sambil membaca lagi pesan dari temanku Yang aku baca cerita tentangmu, tapi yang aku ingat cerita tentang kita dulu Sial memang Oktober, 20 Lowokwaru, Malang, Jawa Timur Ciw

Leluconmu saja

Tak ada lagi pelangi setelah hujan Yang ada hanya bau tanah yang mencuat Lagi-lagi aku memikirkan tentangmu Dibawah jendela sambil menegak secangkir kopi Diselimuti kesejukkan setelah hujan pergi Aku hanya bercakap pada diri sendiri Kenapa dulu aku merasa percaya diri Kalau kau itu menyirami kasih pada diri ini Aku kembali bernostalgia dengan memori Ingat sekali semua bentuk garis-garis senyum Ekspresi, sampai bagaimana tatapan matamu dulu Rasanya aku seperti lelucon bagimu Kau angkat tinggi dan kau hempaskan ke bumi Ingat lagi saat kau bilang lucu, manis, tetanggamu yang bernama kasim, sapi-sapi mu, bisnis yang kau tawarkan, pelajaran yang sangat kau kuasai, caramu memecahkan soal matematika, tempat makan yang kau sukai, dan yah satu lagi wanita yang kau cintai Lagi-lagi itu hanya kepercayaan diriku saja Sepertinya aku memang hanya lelucon bagimu Ah segar sekali rasanya, kopi ini tidak terlalu pahit untuk aku yang tak suka kafein Aku kembal...

100 Derajat

100 Derajat Apa yang kau pikirkan? hari ini begitu panas Masuk ke dalam dan minumlah beberapa teguk es Aku sangat yakin itu cukup membuatmu puas Kaos tipis rasanya menjadi sangat pas Apalagi kau kenangan sekarang Oh iya sayang, jangan terlalu lama berendam di dalam air Walaupun sekarang 100 derajat, tapi tak baik juga kelamaan di air Nanti kulitmu kecut, keriput karena disedot air Kadang kau begitu penurut sampai-sampai menuruti kehendakku sampai berlebihan Kadang juga begitu pembangkang, sudah ku bilang jangan terlalu lama berkeliaran di hatiku eh kamu malah membangkang Tak hanya berkeliaran tapi kau berniat menetap disana Lama-lama aku pusing, kamu gak mau pergi di hati ini Nampaknya sudah punya hak paten disana Sudah tersertifikasi, terverifikasi dan terindikasi tak akan hilang Istilahnya kau berniat menjadi penghuni tetap yang berkomitmen untuk tidak akan pindah Tapi ... Sayang sekali, aku tak pernah bisa berada di hatimu Hanya kamu ...

Rasaku Rasamu

Hujan turun membawa rindu yang datang bersamamu Rintiknya memberi jarak dan kita menjadi satu-bertemu Seperti angina yang berhembus semu Menghembuskan kerinduan padamu  Banyak cerita yang ingin kusampaikan padamu Kamu pun sama, katanya mau bercakap denganku Kau masuk tanpa sengaja dalam setiap benakku Lalu kau dewasa dalam pikiranku Yang muncul di kepalaku hanyalah dirimu saja Kau sangat tajam dalam rasioku Sehingga rasaku semakin pakam padamu Kuharap rasamu pun tak pernah padam padaku Biarlah rasa ini bersatu dan kekal dalam jiwa kita Biarlah ia berkelana dan berkelebat dalam atma Ciw Malang, March 18th 2019

Bukan Orang Baik

Di dunia yang fana ini Aku masih ada disini Ya tentu saja, buktinya masih nulis sajak ini Aku tak peduli lagi tentang diksi Yang aku tahu aku bukan orang baik Begitu juga kamu? Bukan Tapi aku akan berusaha Untuk menjadi orang yang sangat baik Bukan untukmu tapi untukku sendiri Untuk itu, meskipun aku bukan orang baik, aku akan tetap menjaga satu hubungan yang amat kekal Hubunganku dengan Sang pencipta Meskipun bukan orang baik  Aku berjanji akan selalu menjaga shalatku Aku janji, serius janji Nanti kita sama-sama belajar jadi orang baik. Yuk sama-sama kita jadi orang baik

Hilang Dalam Kelam

Malang, 21 Desember 2018 Amarah membara dalam jiwa Dibakar oleh keluh kesah Tak terpadamkan Belum sempat bersedu-sedan Belum juga meringis kesakitan Tapi semuanya sudah hangus terbakar Semua angan Semua kenangan Semua ingatan Semua kebersamaan kini hilang Habis tertelan Sudahlah kau jangan lagi Cukup diam dan main aman Semuanya akan berjalan Walau tak sesuai kemauan Biar hujan dan badai datang Biar semesta ikut kejang Biar semua hilang dalam kelam

Pulang

Sebuah tamparan untuk aku yang tenang Sesaat pahit terasa untuk dikenang Seperti nirwana yang sulit dipegang Engkau hanya bisa bergumam dan aku tetap diam "Pulang" ucapmu, tanpa titik, koma, atau pun pelengkap tataran bahasa lainnya Lebih terasa seperti seruan tapi nampak bagai ancaman Kau tenang tapi aku merasa ditendang Ingin kujawab iya. Tapi asa tak kuasa Yang ada aku hanya diam bagai bangsat yang pengecut Bagai tentara yang dilucuti, Malu! Empat batang rokok pun kurang dalam sejam Aku mengganggu pernafasan sendiri Gara-gara kamu, tapi kamu, peduli apa? Yang kamu tahu aku tinggal pulang Aku kenapa? Kamu bodoamat Bagai anak SMA yang baru tamat Senang tapi juga bimbang Sulit, bukan apa-apa hanya sulit Ingin sekali kembali kesana Aroma, rasa dan indahnya kenangan tiba-tiba jadi pahit Kata orang walau pahit tetap nikmat Tapi kenapa saat ingin pulang rasanya sangat susah. Apa kamu tahu aku dirundung dilema? Antara aku memang ingin kembali atau m...

Keluar

Pujon, 22 agustus 2018 K E L U A R (v) Pernah ada satu waktu Waktu kau tampak kaku Beda dari biasanya Nampak asing dimata Ada satu hal yang hilang disana Tak dapat ku ungkapkan Tak dapat ku ucapkan Hanya ada ke klisean Fatamorgana yang ada dipikiran Terbesit ingin keluar Keluar menjauh dari akar Tapi kau babarkan kerenggangan Sekarang kita ambyar tak karuan Cih, dih, ih Aku keluar kau menetap Aku pergi kau menatap Ah sudahlah aku keluar dengan mantap

Suatu Hari

Sekayu, 5 agustus 2018 Suatu hari Aku bertanya padamu Ini sudah kesekian, aku tetap tak jemu Aku tetap kukuh ingin bertamu Suatu hari Akhirnya kau menjamuku Entah aku tamu yang tak tahu malu Atau engkau tuan rumah yang tak ramah Suatu hari Kau tampak amat takzim Apa itu cuma 'jaim' Atau benar kau sudah alim Suatu hari Aku tersenyum Tapi kau rebas air mata Apa aku terlalu kejam Melihatmu begitu aku terdiam Lalu mataku terpejam Dan kudengar kau merintih Lalu semakin lama rintihanmu semakin sunyi Dan aku tak bisa mendengarnya Lalu semuanya menjadi tersepi

Lantas Merdeka Yang Bagaimana?

Malang, 17 Agustus 2018 Merdeka Apa artinya Apakah mengibarkan bendera Atau menyanyikan lagu kebangsaan Apakah cukup itu saja Sebenarnya apa? Bukankah masih banyak yang tak tahu apa-apa Bukankah masih banyak yang kenapa-kenapa Bukankah masih banyak yang mengambil apa-apa orang lain Lantas merdeka yang bagaimana? Apakah dengan adanya struktur negara yang terorganisir? Lalu rebutan untuk mendudukinya dengan saling usir satu sama lain Atau yang pura-pura di neraka padahal ia disurga

Mencari Kebenaran

Sekayu, 13 Juni 2018 21:58 Mencari Kebenaran   Lihat ke arah sana Di sebelah sana Iya benar, yang disana Berjalanlah perlahan kesana Kelak akan kau temukan dirimu Aku sudah pergi kesana Di tempat itu aku jadi tenang Damai dan aku takzim dibuatnya Tak pernah aku setakzim itu Aku menemukan diriku disitu Kau pernah bertanya padaku bukan? Kemarin lusa kataku, kau sendirian Datang kepadaku dan bercerita seharian Lalu kau membuat begitu banyak pertanyaan Sudah ke pertanyaan kesekian Tapi aku tak dapat memberikan jawaban Aku hanya bisa memberi saran Datanglah ke tempat itu Tempat kau bisa menemukan dirimu Mencari kebenaran atas dunia yang semu Bak reinkarnasi, kau kembali suci Ceritakan pada Nya, mau seharian atau dua harian pun tak apa Ia akan mendengarkanmu tanpa perlu bicara Ia langsung memberikan jawaban Tidak sepertiku bukan, aku terlalu baik jadi pendengar Sehingga tak memberimu jawaban Bukannya tak mau, tapi ...

Tuhan Cemburu

Sekayu, 15 juni 2018 Tuhan Cemburu Aku mau bertanya Bertanya soal dirinya Saat matahari mulai enyah Saat awan mulai merajuk dan cerai berai Aku mau bertanya Sekali lagi tentang dirinya Sambil singgah di bangku coklat tua Menikmati angin dibawah pohon kelapa Aku mau bertanya Tetap   tentang dirinya Dengan malu aku menatapnya Jangan sampai dia mengetahuinya Aku mau bertanya Tuhan Kau cemburukah? Aku takut Kau marah Aku terlalu mencintainya Seperti gadis bodoh tanpa daya

Pecinta Amatir

Sekayu, 12 Juni 2018 21:28 Pecinta Amatir   By : Suci Wandari Merah muda bibirmu seperti buah cery Putih susu kulitmu bak kulit bayi Aku hanya bisa menatap dari sini Di tempat aku biasa duduk Tempatnya agak jauh darimu Kenapa? Karena aku ingin melihatmu seutuhnya Aku tak suka berada dekat denganmu Aku lebih suka ada jarak diantara aku dan kamu Walau kamu sering mendekatiku Kucoba untuk menjauh Biarlah perasaan ini ku pendam sendiri di lubuk hatiku yang jauh Cinta memang begitu rumit Benar-benar sulit Aku saja hanya amatir dalam mencintamu Cuma kagum mungkin Tapi sudah kunamai ini cinta Bolehkah aku tertawa? Aku ingin tertawa tapi aku takut tertawa bersamamu Ku takut menentang takdir Tuhan? Kenapa? Karena ku ingin hentikan waktu saat itu juga Apadaya aku hanya manusia biasa Tak punya kemampuan Tuhan Aku enggan membaca novel Penulisnya terlalu jumawa mengubah kisah cinta Apa ada kisah seindah itu? atau setrag...