Sepak Terjang Indonesia
Dalam Organisasi PBB
Indonesia
merupakan negara dengan jumlah penduduk terpadat ke empat didunia. Selain itu,
Indonesia juga memiliki 34 provinsi yang terdiri atas beribu-ribu pulau. Dengan
5 pulau besar diantaranya Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Bali.
Sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk yang banyak, tentunya Indonesia
juga memiliki banyak masalah yang harus dihadapi. Tak hanya masalah sumber daya
manusia yang banyak tetapi ancaman kejahatan dari luar pasti juga banyak.
Karena memang kejahatan akan selalu ada. Sebagai manusia kita hanya bisa berdoa
dan mencegah kejahatan tersebut, serta menangani masalah kejahatan yang
terjadi. Sebagai negara yang berpegang teguh terhadap Pancasila yang terdiri
atas 5 sila. Dengan sila pertama yang dengan jelas mengatasnamakan Tuhan, yaitu
ketuhanan yang maha esa. Tentunya
Indonesia sangat menjunjung tinggi segala hal yang berhubungan dengan kebaikan
dunia dan akhirat. Seperti perdamaian dunia, Indonesia juga ikut berpartisipasi
dalam organisasi perdamaian dunia yaitu PBB.
PBB atau
singkatan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan bahasa internasionalnya United Nations adalah sebuah organisasi
Internasional yang didirikan oleh 5 Negara besar yaitu Amerika Serikat,
Inggris, Perancis, Rusia, dan Republik Rakyat Cina. PBB berdiri pada tanggal 24
Oktober 1945 (Sejarah peminatan Bailmu K.2013 kelas XI SMA/MA : 210) yang
memiliki tujuan untuk menjaga perdamaian dan keamanan dunia, memajukan dan
mendorong penghormatan hak asasi manusia, membina pembangunan ekonomi dan
sosial, melindungi lingkungan, dan menyediakan bantuan kemanusiaan apabila
terjadi kelaparan, bencana alam, dan konflik bersenjata. Indonesia masuk menjadi anggota PBB tanggal 28
September 1950 yang tercatat menjadi anggota ke-60 (Astalog.com). Menurut
Abdulgani (1972:8) menjelaskan “Indonesia dan PBB dilahirkan di waktu
peperangan dunia kedua selesai dan baik Undang-undang Dasar Republik Indonesia
maupun Piagam PBB adalah bernafaskan cita-cita kemerdekaan, keadilan dan
perdamaian dunia serta keamanan internasional”.
Abdulgani
menjelaskan, kedua-duanya dilahirkan ditengah-tengah penderitaan dan dibawah
ancaman jamur-awannya bom atom, suatu penemuan baru dibidang ilmu pengetahuan
dan persenjataan yang menimbulkan kecemasan dan harapan baru. Kedua-duanya
adalah hasil proses sejarah dalam situasi dan kondisi tertentu, dimana berbagai
perbenturan dari macam-macam kekuatan ikut memainkan pengaruhnya atau ikut
menentukan, seperti runtuhnya kekuatan fasisme, redupnya kolonialisme,
bertahannya imperalisme, dan menaiknya demokrasi, komunisme dan sosialisme;
kesemuanya dan masing-masing terjalin dalam kepentingan-kepentingan ekonomi,
politik, dan militer, serta bersumber kepada berbagai filsafat, kebudayaan,
agama dan kepercayaan.
Tetapi Indonesia
pernah keluar dari anggota PBB yaitu pada tangal 7 Januari 1965
(palingseru.com) yang disampaikan oleh Bung Karno dalam rapat raksasa dihadapan
ribuan rakyat. Hal ini dikarenakan sikap PBB yang menerima Malaysia sebagai
anggota tidak tetap dewan keamanan PBB. Keluarnya Republik Indonesia dari keanggotaan
PBB ini sebenarnya adalah puncak akumulasi dan ketidaksukaan Bung Karno atas
turut campur dan pengaruh negara-negara kapitalis barat dalam organisasi PBB
ini.
Pada tanggal 28
Desember 1966 secara resmi Indonesia masuk kembali menjadi anggota PBB.
Masuknya kembali Indonesia menjadi anggota PBB disambut baik oleh sejumlah
negara terutama dari Asia. Masuknya Indonesia kembali ke PBB bukan tanpa alasan
dan tujuan. Di PBB inilah Bangsa Indonesia memiliki tujuan untuk memperjuangkan
negara-negara yang belum merdeka dan aktif ikut serta menciptakan perdamaian
dunia dengan dikirimnya pasukan perdamian PBB dari Indonesia seperti Pasukan
Garuda untuk perdamaian Kamboja, Timur Tengah, dan sebagainya.
Dengan demikian,
bergabungnya Indonesia dengan PBB merupakan suatu cara bagi Indonesia dalam
mencapai tujuannya diantaranya adalah menjadi negara. Menurut Abdulgani
(1972:12) menjelaskan “Komperensi Asia Afrikadi Bandung pada bulan April 1955
yang diprakarsai oleh Indonesia telah mengambil putusan untuk mendesak Dewan
Keamanan PBB hendaknya para peserta Konferensi. PBB berperan besar bagi
tegaknya Kedaulatan NKRI. Peran PBB antara lain menjadi perantara dalam
Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Hasilnya, Belanda mengakui secara resmi
kemerdekaan Indonesia. PBB juga berperan penting dalam kembalinya Irian Jaya ke
NKRI.
Komentar
Posting Komentar