Langsung ke konten utama

Mentari_ Chapter 3 Novel Zahirah



chapter 3 comeback! 


Bagian 3
Mentari menjauh, rembulan pun pergi
Semuanya tampak gelap, aku sangat bingung mengapa semuanya terlihat gelap. Ku lirik ke samping kanan gelap, ku lihat ke kiri gelap, ku lihat ke bawah juga gelap. Apakah mungkin listriknya padam? Tapi tunggu, perasaan tadi aku mau beli es krim sama ayah kok tiba-tiba semuanya gelap begini ya? Masa sih listriknya padam, memangnya aku ada dimana sekarang.
 “ayah ... ayah ... es krimku mana, kok gelap yah?”
Brak terdengar suara pintu dibuka dengan kuat
“Zahirah, kamu sudah sadar nak?” tanya ibuku khawatir.
“Sadar, emangnya kenapa bu? Ayah mana?”
Ibuku tidak menjawab, terdengar dari suaranya ia sedang menangis lebih tepatnya merintih, entah apa yang ia pikirkan saat itu, karena baru kali ini aku mendengar suara tangisan ibuku yang seperti ini. Apakah suatu hal buruk terjadi pada ibuku, atau jangan – jangan padaku? Ah tidak, tangisan ibuku membuatku jadi ambigu.
“ibu, kenapa menangis? Kenapa semuanya gelap begini bu? Apakah listriknya padam bu?”
Ibuku tak menghiraukan perkataanku, tangisannya menjadi lebih keras dari sebelumnya.
“dokter .... dokter , tolong dokter...”
***
            Aku harus menghadapi kenyataan yang pahit ini, aku benar – benar tidak menyangka di usiaku yang terbilang masih sangat belia aku harus menerima segenap kenyataan yang benar–benar sulit untuk diterima anak seusiaku. Kecelakaan itu telah merenggut nyawa ayahku, tak hanya itu cahaya dalam hidupku pun sudah direnggut. Aku harus kehilangan keduanya, ayah dan indera penglihatanku. Tapi inilah takdir Allah, mungkin inilah yang terbaik untuk diriku toh Allah juga udah ngatur semua urusan hidupku. Sebagai makhluk Allah aku hanya perlu berusaha dan berdoa, selebihnya Allah yang ngatur.
            Sejak kejadian itu, ku putuskan untuk melanjutkan ke pesantren tapi kali ini ibuku melarang. Aku sangat heran mengapa ibu melarangku sekolah di pesantren padahal sebelumnya dialah yang bersikukuh akan menyekolahkanku di pesantren. Aku hanya ingin mengabulkan permintaan terakhir dari ayahku, aku ingin menjadi anak solehah dan Insya Allah jadi hafidzah 30 juz biar bisa liat ibu dan ayah pakai pakaian dari emas di surga nanti.
“Ibu, Zahirah mau banget jadi anak yang berbakti bu, ayolah bu izinkan Zahirah mendaftar di pesantren Ar-Raj’i... ayolah bu” rengekku pada ibu.
“Zahirah kamu tetap jadi anak yang berbakti tanpa sekolah di pesantren sana nak, kamu gak mungkin bisa masuk pesantren nak, karena kamu ...”
            Perkataan ibuku tiba – tiba terhenti, aku sangat paham apa yang mau ibu ucapkan itu. Rintihannya mulai ku dengar, lebih terdengar seperti rintihan yang ditahan. Aku yakin ibu pasti menangis.
“Karena Zahirah buta, karena Zahirah gak bakalan bisa sekolah di pesantren ataupun di sekolah lainnya bu? Karena gak ada sekolah yang mau nerima anak buta seperti Zahirah ya kan bu? Iya kan ibu? Iya kan? , arghhhhh... aku gak bisa berbuat apa–apa bu semuanya gelap. Aku gak bisa liat apapun bahkan sekarang aku sangat bergantung pada ibu, apa–apa dibantu ibu. Aku hanya gadis buta yang lemah ibu .... ahhhhhhhhh kenapa bu?”, terangku diiringi butir–butir air mataku.
“Tidak nak, tidak. Kamu gadis yang kuat, kamu cerdas, dan kamu anak ibu dan ayah. Kamu pasti bisa hadapi semua ini nak, yakinlah nak. Jangan berkata seperti itu lagi Zahirah.”
“Bagaimana aku bisa yakin kalau ibuku sendiri tidak yakin pada anaknya. Bagaimana bu? Aku ingin wujudkan permintaan terakhir ayah bu, aku ingin buat ayah bangga bu.”
***
            Hari ini semangatku menggebuh–gebuh, seperti pejuang yang siap perang. Aku tak mau sampai terlambat karena hari ini adalah hari tes ku untuk masuk ke pesantren Ar- Raj’i, pesantren terfavorit di kotaku. Walaupun jaraknya cukup jauh dari tempatku tinggal, tapi aku tidak mau sampai ketinggalan tes ini. Dua minggu penuh aku belajar, ya memang dibantu ibu. Tetapi sekarang aku sedikit demi sedikit sudah pandai membaca dengan  meraba- raba huruf dari buku yang ku baca. Ibu juga sudah menyewa guru yang mengajar orang tuna netra sepertiku ini. Walau ibu sudah mengizinkan, tapi bisa kurasakan kalau ibu masih mencemaskan diriku ini.
            Tak lama menunggu sampai mobil bis yang mengantarku ini berhenti di gerbang pesantren Ar-Raj’i. Ibuku bilang pesantrennya sangat besar, banyak tumbuhan hijau disekitar pesantren, warna gedung – gedungnya juga didominasi warna hijau. Dalam bayanganku pesantren ini pasti sangat bagus, waktu aku masih bisa melihat aku pernah melihat gambar pesantren ini lewat ipad temanku, namun hanya terlihat bagian depannya saja. Gambar yang ku lihat itu menunjukkan gedung – gedung bertingkat 3 dengan gerbang yang dicat warna putih yang bertuliskan “selamat datang di pondok pesantren Ar-Raj’i”, hanya itu saja yang bisa kulihat waktu itu.
***
            Aku dan ibuku sudah berada diruang pendaftaran, ternyata tes nya bukan hari ini melainkan esok hari. Aku disuruh ibu untuk duduk di depan ruang pendaftaran itu, sepertinya ibu sedang berbincang dengan seseorang di dalam sana. Entah apa yang mereka katakan aku tidak tahu, aku hanya disuruh ibu untuk duduk dan ibu juga memperingatkanku agar tidak kemana–mana. Namun, bangku yang kududuki ini sedikit bergeser seperti ada yang datang mendudukinya lagi. Benar dugaanku, kudengar ada orang yang sedang mengaji dengan suara yang sangat merdu bagiku. Ia membaca surah Al–kahfi beserta artinya, namun ia tersendat ketika membaca arti ayat ke 25 nya. Aku ingin membantunya menyambung arti itu, karena aku juga sedang menghafal surah Al–kahfi, namun baru 30 ayat sepertinya ia juga sedang mengingat hafalannya.
wa labisuw piy kahpihim salaasa mi atin siniyna wadzdadu tis’a. Dan mereka tinggal dalam ... dalam gua, ehh dalam gua,..”
“dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi.” Ucapku berniat membantu mengingatkannya akan hafalannya itu.
“MashaAllah, dek kamu udah hafal Al – kahfi sama terjemahannya ya?”
“Alhamdulillah kak, tapi gak semua ayatnya cuma 30 ayat kak. Kalau kakak?”
“wah kita sama dek, tapi kakak masih lupa–lupa gitu dek. Ehm maaf ya, kamu ...”, tanyanya terputus.
“Iya kak aku tunanetra.” Jawabku tersenyum karena aku tahu maksud kakak ini.
“Maaf dek, gak bermaksud apa – apa dek. Tapi kamu luar biasa dek, walau dengan kondisi seperti ini tapi kamu tetap belajar menghafal AL-qur’an. MashaAllah semoga Allah melindungimu dek.”
Aaamiin Allahuma aamiin. Sebagai hamba Allah kita harus tegar dan kuat kak. Jangan pernah berpikir kalau kekurangan yang kita miliki menjadi penghalang masa depan kita. Karena Allah itu adil kak, terkadang banyak yang heran sama aku. Padahal aku buta, tapi aku bisa baca Al-qur’an sesuai dengan tajwidnya. Ini adalah suatu kelebihan yang  Allah berikan padaku kak, jadi aku juga harus bersyukur dong. Kakak juga harus semangat menghapalnya ya kak.”, ucap Zahirah dengan penuh semangat disertai senyuman.
“MashaAllah, makasih dek, sungguh luar biasa. Tetap semangat ya dek. Kakak jadi malu, harusnya kakak lebih semangat dari kamu dek. Semoga kita bisa jadi sahabat ya dek”
“Tentu dong kak. Semoga kita berjumpa lagi ya kak, namaku Zahirah.” ucapku sambil menyatukan kedua tanganku, sebagai tanda memberi salam.
“Nama kakak ...............”
“Zahirah, kesini nak.” Panggil ibuku.
“Maaf ya kak, lain kali kita ngobrol lagi ya. Aku harus ke dalam dulu.”
***
            Akhirnya aku diterima di pesantren Ar–Raj’i, walau pada awalnya pihak administrasi di ponpes Ar- Raj’i meragukanku karena ia takut kondisiku yang tunanetra ini tak bisa beradaptasi dengan santri lainnya. Alhamdulillah atas izin Allah, Ustadz Sofyan yang merupakan pemilik ponpes ini menerimaku karena permintaan kakak yang tadi aku bantu hafalannya. Kakak itu bernama kak Aisyah Syakirah, ia adalah anak Ustadz Sofyan.
            Selama aku disini kak Aisyah lah yang selalu membantuku dalam segala kesusahanku. Ia sudah seperti kakak kandungku saja. Kak Aisyah juga yang mengajakku berkeliling di ponpes ini agar aku bisa hapal dimana wc, dimana kamarku, dimana, tempat wudhu, dan tempat – tempat lainnya. Walau berbeda kelas, aku dan kak Aisyah tinggal di kamar yang sama. Bersama ke 3 teman kami yang lainnya yaitu Nesfa, Dewikiyah, dan Nisa. Aku merasa sangat bahagia disini, mereka semua seperti keluarga kedua bagiku. Namun, aku tetap saja merindukan ibu dan juga kasih sayang ayah yang tak mungkin bisa ku dapatkan lagi.
“Kak Aisyah nanti malem temenin aku dong”, pintaku pada kak Aisyah yang tengah asik membaca cerita islami karangan Asma Nadia.
“Hhmm, emangnya kamu  mau kemana Zah?”, jawabnya sambil meletakkan buku yang ia baca di kasur.
“Aduhh, kak Aisyah lupa ya.. hari ini kan jadwalku telponan sama ibu”
“Oh, iya ya. Astagfirullahualazim kakak lupa dek. Yaudah deh, entar kakak temenin asalkan 10 kali pijitan kaki, hehehe”
“Hmmm kebiasaan kan nolongin orang pake syarat, entar pahalanya pake syarat juga loh.”,
“Gak gitu juga Zahirah sayang, ih kamu mah gitu orangnya”, jawab kak Aisyah sewot.
“ih kak Aisyah ngambek nih ye... iya – iya entar aku pijitin deh. Jangan ngambek lagi kak Aisyah cantik, entar cantiknya luntur deh.”, jawabku seolah aku pernah melihat wajah kak Aisyah.
“Huhhh, heheheheh iya deh.”
***
            Saat–saat seperti inilah yang paling aku tunggu. Saat dimana aku dapat jadwal telponan atau anak ponpes sini bilang jadwal melepas rindu karena saat kami dapat jadwal telponan kami bebas menelpon siapa saja dalam waktu 2 jam. Hanya ibulah orang yang aku telpon setiap jadwal telponan ini. Semua rasa rinduku ku ungkapkan pada ibu. Biasanya aku menceritakan tentang kegiatanku selama disini bahkan suka dan duka ku ceritakan semuanya pada ibu. Terkadang, telpon sudah terputus sebelum aku dan ibu selesai bicara yah memang waktunya sangat terbatas hanya 2 jam. Ditambah lagi kak Aisyah juga sering ngomong sama ibu di telpon, jadi 2 jam adalah waktu yang sebentar bagiku. Kak Aisyah adalah kepercayaan ibuku. Ibu selalu menitip pesan pada kak Aisyah jika kak Aisyah tidak sempat mengobrol dengan ibu. Biasanya setelah aku menelpon ibu, keesokan harinya ibu mengirimkanku paket camilan kesukaanku yaitu keripik pisang rasa keju dan kue sus kering. Kalau paket itu datang tidak hanya aku yang senang tapi teman satu kamarku juga ikut senang. Mereka juga sangat menyukai camilan keripik pisang rasa keju dan kue sus kering itu.
            Hari–hari di ponpes ini membuatku merasa sangat senang. Semua ajaran ilmu akhirat yang diberikan ustadz dan ustadzah yang sangat bermanfaat bagiku. Semua teman – teman yang mempunyai toleransi tinggi terhadap tunanetra sepertiku ini, dan juga kak Aisyah yang sudah seperti malaikat pelindung bagiku. Aku sangat bersyukur kepada Allah akan semua kehidupan yang menyenangkan ini. Walau terkadang aku sempat merasa Allah itu jahat kepadaku karena telah memisahkanku dengan pahlawanku, yaitu ayahku. Tapi setelah mendapatkan nasihat dari orang–orang yang luar biasa, aku pun sadar aku harus tetap bersyukur karena aku masih punya ibu yang sangat istimewa. Setiap kali aku merindukan ayah, aku akan melihat foto ayah sambil menghafal hafalan qur’an ku. Hal itu membuat rasa rinduku terobati. Walau memang aku selalu meneteskan air mata kalau ingat semua kenangan bersama ayah.
            Sejak kecil, ayah selalu mengajarkanku untuk bersyukur akan segala hal. Ayah juga selalu berpesan padaku agar aku tidak mudah mengeluh akan ujian yang Allah berikan. Satu kata yang ayah ucapkan dan selalu membuatku tertegun. Kata itu selalu membuatku sadar. “Nak, kalau kamu tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu pasti kamu akan meleleh cinta sama Allah dan cintamu itu adalah cinta yang sangat tulus yang gak akan mungkin bisa pupus.” Begitulah kata-kata yang selalu ayah ingatkan padaku. Aku sangat rindu dengan nasehat-nasehat yang ayah berikan, bukan hanya itu tapi semua tentang ayah.
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kata kerja masu dalam bahasa jepang beserta terjemahannya

 No Kata kerja dasar golongan Kata kerja masu   ます Arti 1 Kau かう 1 kaimasu かいます Membeli 2 A u あう 1 aimasu あいます Bertemu 3 Utau うたう 1 utaimasu うたいます Melagukan 4 Matsu まつ 1 Machimasu まちます Menunggu 5 Tatsu たつ 1 Tachimasu たちます Berdiri 6 Wakatsu わかつう 1 wakachimasu わかちます Membagikan 7 Nor u のる 1 Narimasu なります Naik 8 Tsukuru つくる 1 Tsukurimasu つくります Membuat 9 Wakaru わかる 1 Wakarimasu わかります Mengerti 10 Asobu あそぶ 1 asobimasu あそびます Bermain 11 Tobu とぶ 1 Tobimasu とびます Terban...

contoh Recount text

Recount Text adalah teks yang menceritakan suatu kejadian yang telah terjadi atau secara singkat, recount text adalah teks yang menceritakan ulang suatu kejadian atau peristiwa yang telah terjadi. Pada tulisan saya kali ini, saya akan memberikan 3 contoh recouny text. Contoh Recount Text : 1. Antusiasme Guru SMANDA Dalam Memperingati HUT PGRI Ke-70 Tepat pada tanggal 25 November 2015 seluruh sekolah memperingati hari guru nasional yang ke-70 atau yang lebih dikenal dengan HUT PGRI ke-70 tak terkecuali SMA Negeri 2 Unggul Sekayu. Hari ini, pukul 07.30 WIB seluruh warga SMA Negeri 2 Unggul Sekayu dikumpulkan di lapangan SMANDA, akan tetapi upacara kali ini berbeda dari biasanya karena petugas upacaranya dari kalangan guru. Pada saat itu para guru yang menjadi tugas upacara sibuk latihan dengan tugasnya masing-masing. Diantara mereka yang menjadi petugas yaitu, ibu Nur sebagai wakil dari kepala sekolah sebagai pembina upacara, pak Darmawan sebagai pemimpin upacara, ibu Suci s...

contoh teks eksplanasi media sosial

Media Sosial Media sosial merupakan saluran atau sarana pergaulan sosial secara online di dunia maya dimana para penggunanya dapat dengan mudah mencari teman, mengirim pesan, membagikan berita, dan aktivitas lainnya. Sebagai salah satu media komunikasi, media sosial tidak hanya dimanfaatkan untuk berbagi informasi dan inspirasi, tetapi juga ekspresi diri, pencitraan diri, dan ajang curhat, bahkan keluh - kesah dan sumpah - serapah. Saat ini, media sosial sepertinya sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Tua muda, pria wanita, bos besar sampai Office boy pun sepertinya sudah mengenal dan mengetahui tentang media sosial. Beberapa media sosial yang populer di Indonesia yaitu facebook, twitter, instagram, google plus, ask fm, tumblr, flickr, pinterest, path, dan beberapa sosial chat seperti bbm, line, whats app, dan lain sebagainya. Perkembangan teknologi informasi yang pesat merupakan salah satu penyebab booming nya media sosial. Zaman sekarang med...