Bagian 5
Sahabat
baru
"Menemukan seorang kawan sangat mudah dimana pun kamu berada pasti akan mendapatkan kawan. Tapi, menemukan seorang sahabat suatu keniscayaan. sangat sulit. Setelah kau dapatkan jangan sampai kau lepaskan karena menemukannya seperti mendapatkan mutiara di dasar lautan. Butuh usaha yang keras sampai kau mendapatkannya karena sesuatu yang indah itu butuh perjuangan."
Siang ini Zahirah berniat untuk
pergi ke toko buku yang tidak jauh dari asramanya, itulah sebabnya ia berjalan
kaki saja sekalian jalan-jalan. Cuaca siang ini cukup sejuk sehingga Zahirah
sangat nyaman berjalan kaki. Zahirah mengenakan jilbab berwarna abu-abu yang ia
pakai dengan model yang simpel tapi tetap indah dilihat. Baju Zahirah berwarna
merah muda dengan motif cherry blossom, melihat
bajunya Zahirah seolah musim semi sudah tiba. Zahirah berjalan menyusuri
jalanan Ottawa yang nampak bersih dari sampah dengan tata kota bergaya modern.
Tak lama Zahirah berjalan, ia sudah sampai ke sebuah toko buku. Ia segera
bergegas masuk ke toko buku yang besar itu. Siapapun yang masuk ke toko buku
itu akan langsung dimanjakan dengan berbagai buku-buku yang tersusun rapi di
rak buku yang di desain dengan gaya klasik moderen.
Di dalam ruangan ini, Zahirah bisa
menghabiskan waktunya berjam-jam karena disini juga disediakan tempat baca bagi
para calon pembeli yang mungkin penasaran untuk membaca terlebih dahulu buku yang
akan mereka beli. Namun, tak sedikit juga yang hanya membaca buku saja tapi
tidak membeli buku satu pun. Zahirah berjalan melihat-lihat buku di rak buku.
Ia tertarik dengan buku yang berjudul ‘behind
the scenes' ia langsung mengambil buku itu dan duduk di tempat baca yang
telah disediakan. Ia mulai membuka lembar pertama buku itu yang ada quote yang cukup menarik, “cause you never know behind the scenes of
the success people in this world” dan di lembar keduanya juga ada quote yang kalau diartikan dalam bahasa
Indonesia artinya adalah “terkadang apa yang kita lihat dan yang kita dengar
belum tentu benar, begitu hal nya dengan perasaan, perasaan juga bisa salah”.
Setelah membaca quotes yang kedua wajah Zahirah terlihat seperti orang
kebingungan.
“Hmm, perasaan juga bisa salah. Aku tidak mengerti
maksud kutipan ini. Ah sudahlah ku baca saja buku ini. Sepertinya menarik.”,
Zahirah bergumam sendiri.
Tak lama setelsh itu, Zahirah
berhasil menyelesaikan buku yang berjudul ‘behind
the scenes’. Bagi Zahirah buku itu benar-benar buku yang menginspirasi
karena buku itu menceritakan behind the
scenes orang-orang hebat dan populer di dunia. Seperti kisah Thomas Alfa
Edison yang memotivasi arti pentingnya kerja keras. Thomas Alfa Edison yang
kita kenal seoarang penemu lampu ternyata ia memiliki kisah pahit sejak ia
masih kecil, ia bukanlah anak yang cerdas bahkan ia hanya sebentar menikmati
bangku pendidikan namun berkat kegigihan dan kerja keras ia berhasil menjadi
orang yang terkenal di dunia sampai sekarang. Ada pula salah satu kata yang
dapat di kutip dari seorang Thomas Alfa Edison “genius is 1% inspiration and 99% perspiration” jadi menurut Thomas,
jenius itu adalah 1% ide tetapi 99% nya adalah kerja keras. Hal ini mengajarkan
kita bahwa sebuah mimpi atau angan-angan akan tetap menjadi sebuah ide jika
tidak kita wujudkan dengan usaha dan kerja keras. Tak hanya menurut Thomas
bahkan dalam kitab suci Al-qur’an telah terlebih dahulu menyebutkan bahwa
sebagai hamba Allah kita harus bekerja keras. Bekerja keraslah kamu seolah
hidup selamanya dan beribadahlah kamu seolah mati esok.
Zahirah mulai beranjak dari tempat duduknya,
ia berjalan dan kembali mengutak-atik rak buku yang sudah tersusun rapi. Ia
mulai menjelajahi buku-buku disana. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi Zahirah
menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih buku yang akan ia baca.
“Ah ini bagus!”, Zahirah menarik salah satu buku di
rak buku. Namun dari arah berlawanan ada juga yang menarik buku yang Zahirah
pegang dan terjadilah saling tarik-menarik buku yang membuat buku tersebut
jatuh di lantai.
“Tuh kan jatuh jadinya, ngapain juga sih nih orang
ngerebut buku yang mau gue baca. Eh ini semua gara-gara elo yah”, lelaki itu
terus saja mengomel tanpa melihat seseorang yang jadi sasaran omelannya karena
ia menunduk mengambil buku malang yang jatuh karena aksi tarik-menarik itu.
“Astagfirullahalazim ya Allah sabarkan hambamu ini”,
gumam Zahirah dalam hati seraya mengelus dadanya.
“Sorry, tadi
saya sudah duluan mengambil buku ini tapi, kalau anda memang keberatan silahkan
anda ambil saja.”, Zahirah pun meninggalkan lelaki yang sudah terpaku mematung
di depan Zahirah, nampaknya ia terpesona akan kecantikan Zahirah. Sadar akan
kepergian Zahirah, lelaki itu segera mengejar Zahirah yang padahal tidak
berlari.
“Eh tunggu-tunggu. Maaf, gue salah eh maksudnya saya
yang salah. Ini bukunya”, lelaki itu menyerahkan buku itu kepada Zahirah.
“Oh tidak-tidak, silahkan anda saja yang membacanya.
Tadi anda bilang kalau anda sudah duluan mengambil buku ini, lagian saya juga
sudah dapatkan buku yang sama persis seperti itu.”, Zahirah menunjukkan buku
yang sama seperti yang lelaki itu pegang.
“Oh iya baiklah kalau begitu.”, lelaki itu nampak
malu lantaran ia tidak mau mengalah dengan seorang wanita.
Zahirah
kembali duduk di tempat ia membaca buku ‘behind
the scenes’ tadi. Ia mulai membaca buku yang ia pegang dan tidak sadar
kalau lelaki yang menurutnya menyebalkan tadi sudah duduk di sampingnya sambil
membaca buku yang sama seperti Zahirah. Lelaki yang duduk di samping Zahirah
tidak konsentrasi membaca buku tapi, ia malah memerhatikan Zahirah. Sudah
sekitar 4 jam Zahirah berada di toko buku tersebut, ia pun membeli beberapa
buku dan bergegas keluar dari toko buku itu. Hari sudah mulai sore, Zahirah
berjalan agak cepat takut nantinya ia pulang kemalaman dan asrama akan ditutup.
“Hey tunggu... .. Heyyy... hmmm Zahirahhh tunggu”,
teriak lelaki yang rebutan buku dengan Zahirah di toko buku sambil berlari ke
arah Zahirah. Zahirah yang merasa namanya dipanggil seseorang. Ia langsung
berhenti dan menoleh ke belakang.
“Hey, bagaimana ia tahu namaku dasar lelaki yang
menyebalkan. Eh tunggu dia membawa apa itu. Hmm, oh tidak kalung dari Ayah.”,
Zahirah juga berlari ke arah lelaki itu.
“Kalungku...”, Zahirah langsung mengambil kalung
yang berukiran nama Zahirah.
“Tadi kau menjatuhkannya, maksudku kalungmu jatuh di
meja bawah kursi tempat kamu membaca tadi.”, ucap lelaki itu.
“Terima kasih banyak, kalung ini sangat berharga.
Sekali lagi terima kasih ya.”
“Ya tentu sama-sama. Hmm, kupikir kau masih marah
padaku soal yang tadi.”
“Tidak aku tidak marah apakah wajahku terlihat
seperti orang yang sedang marah?”
“Zahirah? Itu namamu? Wajahmu tadi saat bicara di
toko buku sepertinya sangat kesal padaku ya? Ya tentu saja kau marah, mulutku
ini memang cerewet. Sekali lagi maafkan aku ya aku benar-benar tidak enak
padamu.”, sesal lelaki itu.
“Oh iya. Tidak usah seperti itu, kau sudah mengembalikan
benda yang sangat aku sayangi aku justru sangat berterima kasih padamu jika
kalung ini hilang aku akan sangat sedih. Maafkan aku karena tadi menunjukkan
kemarahan lewat wajahku.”
“Tidak usah minta maaf begitu, justru aku lah yang
bersalah disini. Sudahlah jangan berdebat ya. Oh ya, namaku Wilson.”, Wilson
menjulurkan tangannya. Zahirah langsung menolak dengan sopan
“Sorry kau
tidak bisa menyentuh tanganku but you can
get my smile. Aku Zahirah”, Zahirah menamgkupkan kedua tangannya sambil
tersenyum.
“Oh no
problem”, Wilson tersenyum ramah.
“Oh iya, aku harus pergi. Sampai disini dulu ya,
permisi.”
“Baiklah. Sampai jumpa...”
Keduanya pun berlalu.
***
“Assalamualaikum Carolin...”, Zahirah menghampiri
sahabatnya yang sedang mendengarkan murojaah dari syekh Taha Al-Junaid.
“Waalaikumsalam Irah yang cantik.....”, Carolin
melepaskan heandset di telinganya.
“ Pasti
kamu lagi menghapal surah ya?”
“Iya, tau aja deh kamu. Aku juga ngehapal sambil
dengerin suaranya syekh Taha Al-Junaid. Suaranya itu loh bikin aku meleleh Rah.
Aku pengen deh punya suami kayak syekh Taha, dia itu suaranya baca Al-qur’an
merduuuuu banget, hati ini jadi damai dengerinnya.”
“Iya aku tahu juga Rah, semangat menghapal Carolin.
Ya semoga aja Allah memberikan jodoh yang terbaik buat kamu Carolin. Kamu nih
udah mikir mau nikah apa?”
“Yeh, kamu yang mikir gitu ya aku enggak lah. Aku
tuh ya Irah masih mau nikmatin masa muda aku dulu, masa udah mikir mau nikah
huu”, Carolin menjulurkan lidahnya ke arah Zahirah.
“Udah ah, bahas yang kayak gini. Udah nanti aja,
kita bahas yang lain aja. Nih aku udah beli yang disuruh miss Jenet, ayo kita
baca”, Zahirah menunjukkan buku tebal bersampul warna putih kepada Carolin.
“Oh iya aku lupa Rah, aku belom beli. Yaudah kita
baca sekarang yokk dari pada bahas sesuatu yang belum pernah kita rasain.”
Mereka
berdua langsung membolak-balik halaman demi halaman dari buku yang mereka
pegang. Mereka duduk di taman kampus yang ada air mancur tepat di depan meraka.
Dengan udara pagi yang menyegarkan tak lupa pula lalu lalang mahasiswa dan
mahasisiwi lainnya. Saat mereka sedang sibuk membaca buku tiba-tiba ada seorang
lelaki yang memanggil nama Zahirah dengan semangat.
“Zahirah ....”
“Wilson.... apa kabar?”
“Ya fine, kamu
kuliah disini juga ya? Aku tak menyangka kita bertemu lagi”
“Iya Wilson aku fakultas bisnis. Tapi
ngomong-ngomong aku tidak pernah melihatmu, kamu fakultas mana?”
“Aku anak sejarah dan sebentar lagi aku juga akan
wisuda, sekarang aku lagi menyelesaikan skripsiku yang terus-terusan saja
salah, dosen itu sangat membuatku kesal. Eh maaf, aku mulai cerewet lagi.”,
Wilson merasa malu karena sudah berbicara terlalu banyak.
“Ah tidak apa-apa kau memang terlihat seperti anak
yang ceria. Ku doakan semoga skripsimu selesai dengan benar ya..”
“Hey heyy.. kalian asyik sendiri, aku ini tak kalian
ajak apa?”, gerutu Carolin.
“Oh iya aku lupa, Wilson ini Carolin sahabatku dia
juga anak bisnis”, Zahirah menepok keningnya.
“Hallo, senang berkenalan denganmu Carolin aku
Wilson”, Wilson menangkupkan kedua tangannya seperti saat Zahirah berkenalan
dengannya.
“Iya Wilson, senang berkenalan denganmu, sepertinya
kau orang yang asik sama sepertiku hehehehe....”, canda Carolin.
“Ya aku yakin kau pasti tidak akan menyesal telah
mengenal aku. Aku ini orangnya selalu ceria meski sedikit cerewet tapi aku
tetap gagah bukan?”, Wilson memamerkan ototnya yang tidak terlalu besar itu.
“Hahahah kau ini otot kecil begitu saja sombong
sekali dasar cerewet...”, Carolin mengejek Wilson seolah sudah mengenal lama
Wilson.
“Hey jangan bicara begitu. Lihat saja nanti ototku
ini akan besar dan aku akan terlihat semakin tampan”
“Ya semoga saja, tapi ku yakin kau pasti akan butuh
waktu yang lama sedangkan usiamu di kampus ini sudah mau habis bagaimana bisa
kau tunjukkan padaku?”
“Ya Carolin apakah kau mau aku cepat-cepat pergi
dari kampus ini? Lihat saja kalau aku berhasil kau akan tergila-gila padaku.
“Ya ya ya ... terserah kau saja tuan Wilson ....”
“Hey kalian berdua cocok sekali. Baru beberapa menit
tapi kalian sudah terlihat sangat akrab begini”, Zahirah angkat bicara setelah
mendengarkan sedikit pembicaraan konyol dari 2 orang temannya itu.
“Hah! Cocok apanya Zahirah? Aku dengan dia, tidak
mungkinlah. Dia itu terlalu kepedean”, Carolin langsung menjawab.
“Hey Carolin siapa juga yang mau cocok denganmu, kau
itu terlalu genit.”, Wilson membantah.
“Kalian jangan bicara seperti itu bagaimana kalau
kalian berdua berjodoh? Hayoo bagaimana?”
“Bagaimana kalau aku denganmu yang berjodoh
Zahirah?”, Wilson berharap
“Hey kau sok kepedean sekali ya? Apakah kau tak tahu
Zahirah ini sahabatku yang paling cantik dan baik. Dia tidak akan berjodoh
denganmu ya, jangan sampai itu terjadi. Aku tidak mau melihat sahabatku
tersiksa dan menderita karena harus berjodoh denganmu. Kau itu sangat cerewet
sedangkan temanku ini sangat cantik, pintar, dan baik. Jangan sampai-jangan
sampai”
“Ya kau bilang saja kau berharap berjodoh denganku.
Iya kan? Jelas saja wajahku ini tampan sekali kau pasti terpesona melihatku
bukan jadi kau tidak rela jika aku berjodoh dengan Zahirah kan?”
“Hey kau ini! Dasar kepedean, aku tidak mungkin
menjadi jodohmu, cam kan itu ya, ...”, Carolin menimpuk kepala Wilson dengan
buku tebal yang ia pegang.
“Ya ampun kalian ini, sudah-sudah jangan ribut.
Lihatlah kalau Allah berkehendak kalian berdua pasti akan menjadi pasangan,
sudah jangan bicara lagi sekarang kita ke kantin perutku ini sudah sangat
lapar. Ayo cepat...”, Zahirah menarik tangan Carolin.
“Ya Allah jangan sampai Wilson ini jodohku ku mohon
ya Allah”, Carolin menegadahkan kedua tangannya ke atas kemudian mengusapkan di
wajahnya.
“Aku juga tidak mau. Sudah ayo kita ke kantin saja,
daripada mendengarkan ocehanmu itu Carolin”, Wilson menyusul Zahirah dan
Carolin yang sudah duluan darinya.
***
Zahirah,
Carolin, dan Wilson akhirnya menjadi sahabat meski Carolin dan Wilson selalu
saja ribut tiap kali bertemu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Setiap
hari mereka selalu bertemu dan biasanya setiap hari minggu mereka pergi
jalan-jalan keliling kota Ottawa kalau mereka tidak ada tugas. Mereka sudah
seperti jarum dan benang yang saling melengkapi. Mereka selalu bercanda dan
tertawa bersama. Sebenarnya Wilson menyukai Zahirah sejak pertama kali mereka
bertemu. Sampai pada akhirnya perasaan Wilson terhadap Zahirah tidak dapat di
pendam lagi. Ia berniat untuk mengungkapkan semua isi hatinya pada Zahirah.
“Pagi Irahh..... “, Wilson datang menghampiri
Zahirah yang sedang duduk sendirian sambil memegang handphone.
“Eh Wilson, pagi.... biasanya jam segini kau sudah
masuk ke kelasmu lalu kenapa kau belum masuk?”
“Oh, dosenku sedang pergi ke Queebec jadi dia tidak
masuk hari ini. Aku bisa bersantai dan bertemu denganmu. Oh iya Carolin si
cerewet itu kemana?”
“Oh begitu ya. Cieeee kangen nih yee... giliran
orangnya ada aja pasti kalian ribut tapi kalau tidak ada kalian malah saling
merindukan, dasar kalian aneh sekali. Kalian memang sangat cocok”
“Ihhh amit deh, siapa juga yang kangen sama si
cerewet itu. Sudah Zahirah berhentilah meledekku dengannya aku itu sukanya sama
kamu, aku itu cinta sama kamu Irahh. Kau tahu, sejak pertama kita bertemu aku
sudah jatuh cinta padamu ku harap kau juga mempunyai perasaan yang sama
sepertiku”, Wilson mengungkapkan semua isi hatinya kepada Zahirah dengan
menatap lekat kedua mata Zahirah.
“Wilson.... aku udah anggap kamu itu kayak kakak
aku. Maaf Wilson aku tidak bisa menerima cintamu, karena aku pengen kita tetap
jadi sahabat. Kamu bisa mengerti kan Wil? Aku gak mau persahabatan kita ada
perasaan yang lain. Aku pengen kamu anggep aku sebagai sahabat”, Zahirah
meyakinkan Wilson.
“Iya Irah aku ngerti. Aku minta maaf ya, aku terlalu
berlebihan terhadapmu. Aku mengerti kamu itu emang gak cocok sama aku, karena
kamu itu terlalu kecil jadi kamu cocok jadi adek aku aja, badan kamu kan kecil
huuu......”, Wilson menyadari cintanya memang tidak akan dibalas oleh Zahirah
karena ia tahu Zahirah adalah gadis yang sulit dimengerti. Ia menghibur dirinya
sendiri dengan membuat sedikit candaan garing.
“Nah gitu dong, kamu kan juga terlalu berotot jadi
kamu itu cocoknya jadi kakakku saja. Lihatlah ototmu semakin membesar kalau
Carolin melihatnya, aku yakin ia pasti akan berhenti meledekmu”
“Oh iya ya. Aku jadi inget janjiku sama si cerewet
itu, nah ini saatnya pembuktian. Setelah dia melihatku pasti dia akan memujiku
dan ia akan terdiam. Ayo kita jenguk dia, dia kan lagi sakit. Kalau tidak ada
si cerewet itu rasanya sepi sekali ya?’
“Ya semoga saja dia berhenti meledekmu ya, ayo kita
ke rumah kontrakannya lagian aku masuk 2 jam lagi.”
Mereka berdua pergi menuju
kontrakan Carolin yang tidak jauh dari kampus mereka. Zahirah dan Wilson
membawa roti keju panggang kesukaan Carolin. Tak lama setelah itu, mereka
sampai di kontrakan Carolin. Rumahnya berwarna tosca dan ada sedikit warna
merah muda. Rumah ini nampak cantik walau minimalis. Sebenarnya kalau Carolin
mau dia sangat mampu untuk membeli apartemen yang harganya paling mahal
sekalipun tapi, ia tidak mau tinggal di apartemen. Ia lebih memilih tinggal di
kontrakan minimalis itu karena menurutnya apartemen terlalu besar untuknya yang
tinggal sendirian. Carolin dan Wilson yang sudah sampai tepat di depan pintu
rumah Carolin langsung mengetok pintu rumah Carolin.
“Assalamualaikum Carolin...”,ucap Zahirah sambil
mengetok pintu rumah minimalis itu.
“Waalaikumsalam, eh Zahirah. Ayo masuk, Carolin lagi
tiduran disana badannya panas sekali tapi syukurlah sekarang sudah sedikit
membaik.”, jelas bibinya Carolin yang sudah lama mengenal Zahirah karena
Zahirah sering menemani Carolin mengunjungi rumah bibinya yang juga berada di
kota Ottawa.
“Oh, syukurlah bibi. Oh ya bi ini Wilson teman
kami.”
“Wilson bi aku temannya keponakanmu bi, boleh aku
menjenguknya?”, tanya Wilson sopan.
“Oh tentu saja nak, ayo kalian masuklah”
Zahirah dan Wilson masuk kerumah Carolin.
“Hey cerewet aku datang.... lihat aku membawa roti
keju panggang kesukaanmu. Ayo cepatlah makan ini dan kau akan segera sembuh.
Ayo cepat bangun...”, Wilson membuka bungkusan roti yang ia bawa.
“Ah ternyata kau datang ya? Aku pasti akan sulit
sembuh karena melihat mukamu, eh tunggu mana rotinya sini cepatt”, Carolin
mencoba bangun dan meraih roti di tangan Wilson dengan cekatan.
“Dasar kau ini soal makan saja langsung sembuh. Kau
ini tidak sakit, tapi kau lapar...”, ledek Wilson.
“Hey Wilson jangan begitu tidak enak dengan bibinya
Carolin. Suaramu nanti mengganggunya ....”, ucapan Zahirah terpotong karena
bibinya Carolin sudah membawakan dua gelas jus lemon dan sedikit camilan di
mangkuk.
“Hey Wilson, Carolin tidak apa-apa kalian tidak
mengganggu bibi malah merasa senang kalian sudah menengok keponakan bibi yang
bandel ini. Nah ayo minum ini”, bibinya Carolin memberikan jus itu kepada
Zahirah dan Wilson.
“Ah bibi, aku tidak bandel...”, rengek Carolin.
“Ya tidak bandel tapi nakal hahahahaha.....”, Wilson
memotong perkataan Carolin.
“Ih langsing kau ini menjengkelkan sekali, diam
kau....”, Carolin mengancam Wilson.
“Ya kalian beginilah kalau bertemu coba kalau tidak
bertemu pasti saling merindukan..”, ledek Zahirah.
“Zahirah ....”, Wilson dan Carolin kompak.
“Hey sudah-sudah ayo Carolin kau habiskan roti yang
temanmu bawa setelah itu minum obat ini dan kalian, Wilson Zahirah. Ayo
makanlah ini”, Bibi meredakan suasana.
Cukup
lama Zahirah, Wilson, dan Carolin bercakap-cakap sambil memakan camilan.
Carolin juga terlihat sudah membaik. Suhu tubuhnya sudah kembali normal dan
besok mungkin Carolin akan segera sembuh. Ini adalah energi positif yang dibawa
sahabat-sahabatnya. Ia juga sering tertawa sekaligus jengkel akibat ulah Wilson
yang memang sedikit konyol. Namun, hal itu membuat mereka saling menyayangi
satu sama lain walau banyak perbedaan diantara mereka tapi mereka selalu saling
mendukung baik dalam suka maupun duka. Tak terasa sudah hampir 2 jam Zahirah
dan Wilson berada di kontrakan Carolin dan mereka akan segera kembali ke
kampus.
“Terima kasih ya Zahirah cungkring, kalian udah
dateng dan bawa roti keju panggang yang lezat ini. Hati-hati di jalan ya....”
“Oke cerewet, kami akan kembali ke kampus dan kamu
harus cepat sembuh ya. Terus jangan lupa minum obat dan jangan jadi keponakan
yang bandel ya, jangan nyusahin bibi kamu yang baik itu yaa...”, cerocos Wilson
yang sudah seperti ibu-ibu.
“Sekarang aku atau kamu sih yang cerewet, bawel
banget deh.. udah cepat ke kampus, Zahirah kamu kan bentar lagi masuk. Udah
tinggalin aja nih si cungkring”, balas Carolin yang berdiri di depan pintu
rumah kontrakannya itu.
“Iya, iya kami balik ke kampus kamu jaga kesehatan
kamu ya, oh ya bi kami pamit ya terima kasih camilannya bi, enak sekali.
Assalamualaikum...”, ucap Zahirah.
Zahirah dan Wilson pergi ke arah kampus mereka sedangkan
Carolin dan bibinya masuk lagi kerumah kontrakan minimalis itu.
***
Komentar
Posting Komentar