Langsung ke konten utama

Sahabat Baru_ Chapter 5 Novel Zahirah


Bagian 5
Sahabat baru
"Menemukan seorang kawan sangat mudah dimana pun kamu berada pasti akan mendapatkan kawan. Tapi, menemukan seorang sahabat suatu keniscayaan. sangat sulit. Setelah kau dapatkan jangan sampai kau lepaskan karena menemukannya seperti mendapatkan mutiara di dasar lautan. Butuh usaha yang keras sampai kau mendapatkannya karena sesuatu yang indah itu butuh perjuangan."
Siang ini Zahirah berniat untuk pergi ke toko buku yang tidak jauh dari asramanya, itulah sebabnya ia berjalan kaki saja sekalian jalan-jalan. Cuaca siang ini cukup sejuk sehingga Zahirah sangat nyaman berjalan kaki. Zahirah mengenakan jilbab berwarna abu-abu yang ia pakai dengan model yang simpel tapi tetap indah dilihat. Baju Zahirah berwarna merah muda dengan motif cherry blossom, melihat bajunya Zahirah seolah musim semi sudah tiba. Zahirah berjalan menyusuri jalanan Ottawa yang nampak bersih dari sampah dengan tata kota bergaya modern. Tak lama Zahirah berjalan, ia sudah sampai ke sebuah toko buku. Ia segera bergegas masuk ke toko buku yang besar itu. Siapapun yang masuk ke toko buku itu akan langsung dimanjakan dengan berbagai buku-buku yang tersusun rapi di rak buku yang di desain dengan gaya klasik moderen.

Di dalam ruangan ini, Zahirah bisa menghabiskan waktunya berjam-jam karena disini juga disediakan tempat baca bagi para calon pembeli yang mungkin penasaran untuk membaca terlebih dahulu buku yang akan mereka beli. Namun, tak sedikit juga yang hanya membaca buku saja tapi tidak membeli buku satu pun. Zahirah berjalan melihat-lihat buku di rak buku. Ia tertarik dengan buku yang berjudul ‘behind the scenes' ia langsung mengambil buku itu dan duduk di tempat baca yang telah disediakan. Ia mulai membuka lembar pertama buku itu yang ada quote yang cukup menarik, “cause you never know behind the scenes of the success people in this world” dan di lembar keduanya juga ada quote yang kalau diartikan dalam bahasa Indonesia artinya adalah “terkadang apa yang kita lihat dan yang kita dengar belum tentu benar, begitu hal nya dengan perasaan, perasaan juga bisa salah”. Setelah membaca quotes yang kedua wajah Zahirah terlihat seperti orang kebingungan.

“Hmm, perasaan juga bisa salah. Aku tidak mengerti maksud kutipan ini. Ah sudahlah ku baca saja buku ini. Sepertinya menarik.”, Zahirah bergumam sendiri.

Tak lama setelsh itu, Zahirah berhasil menyelesaikan buku yang berjudul ‘behind the scenes’. Bagi Zahirah buku itu benar-benar buku yang menginspirasi karena buku itu menceritakan behind the scenes orang-orang hebat dan populer di dunia. Seperti kisah Thomas Alfa Edison yang memotivasi arti pentingnya kerja keras. Thomas Alfa Edison yang kita kenal seoarang penemu lampu ternyata ia memiliki kisah pahit sejak ia masih kecil, ia bukanlah anak yang cerdas bahkan ia hanya sebentar menikmati bangku pendidikan namun berkat kegigihan dan kerja keras ia berhasil menjadi orang yang terkenal di dunia sampai sekarang. Ada pula salah satu kata yang dapat di kutip dari seorang Thomas Alfa Edison “genius is 1% inspiration and 99% perspiration” jadi menurut Thomas, jenius itu adalah 1% ide tetapi 99% nya adalah kerja keras. Hal ini mengajarkan kita bahwa sebuah mimpi atau angan-angan akan tetap menjadi sebuah ide jika tidak kita wujudkan dengan usaha dan kerja keras. Tak hanya menurut Thomas bahkan dalam kitab suci Al-qur’an telah terlebih dahulu menyebutkan bahwa sebagai hamba Allah kita harus bekerja keras. Bekerja keraslah kamu seolah hidup selamanya dan beribadahlah kamu seolah mati esok.

 Zahirah mulai beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan dan kembali mengutak-atik rak buku yang sudah tersusun rapi. Ia mulai menjelajahi buku-buku disana. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi Zahirah menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih buku yang akan ia baca.

“Ah ini bagus!”, Zahirah menarik salah satu buku di rak buku. Namun dari arah berlawanan ada juga yang menarik buku yang Zahirah pegang dan terjadilah saling tarik-menarik buku yang membuat buku tersebut jatuh di lantai.

“Tuh kan jatuh jadinya, ngapain juga sih nih orang ngerebut buku yang mau gue baca. Eh ini semua gara-gara elo yah”, lelaki itu terus saja mengomel tanpa melihat seseorang yang jadi sasaran omelannya karena ia menunduk mengambil buku malang yang jatuh karena aksi tarik-menarik itu.

“Astagfirullahalazim ya Allah sabarkan hambamu ini”, gumam Zahirah dalam hati seraya mengelus dadanya.

Sorry, tadi saya sudah duluan mengambil buku ini tapi, kalau anda memang keberatan silahkan anda ambil saja.”, Zahirah pun meninggalkan lelaki yang sudah terpaku mematung di depan Zahirah, nampaknya ia terpesona akan kecantikan Zahirah. Sadar akan kepergian Zahirah, lelaki itu segera mengejar Zahirah yang padahal tidak berlari.

“Eh tunggu-tunggu. Maaf, gue salah eh maksudnya saya yang salah. Ini bukunya”, lelaki itu menyerahkan buku itu kepada Zahirah.

“Oh tidak-tidak, silahkan anda saja yang membacanya. Tadi anda bilang kalau anda sudah duluan mengambil buku ini, lagian saya juga sudah dapatkan buku yang sama persis seperti itu.”, Zahirah menunjukkan buku yang sama seperti yang lelaki itu pegang.

“Oh iya baiklah kalau begitu.”, lelaki itu nampak malu lantaran ia tidak mau mengalah dengan seorang wanita.

            Zahirah kembali duduk di tempat ia membaca buku ‘behind the scenes’ tadi. Ia mulai membaca buku yang ia pegang dan tidak sadar kalau lelaki yang menurutnya menyebalkan tadi sudah duduk di sampingnya sambil membaca buku yang sama seperti Zahirah. Lelaki yang duduk di samping Zahirah tidak konsentrasi membaca buku tapi, ia malah memerhatikan Zahirah. Sudah sekitar 4 jam Zahirah berada di toko buku tersebut, ia pun membeli beberapa buku dan bergegas keluar dari toko buku itu. Hari sudah mulai sore, Zahirah berjalan agak cepat takut nantinya ia pulang kemalaman dan asrama akan ditutup.

“Hey tunggu... .. Heyyy... hmmm Zahirahhh tunggu”, teriak lelaki yang rebutan buku dengan Zahirah di toko buku sambil berlari ke arah Zahirah. Zahirah yang merasa namanya dipanggil seseorang. Ia langsung berhenti dan menoleh ke belakang.

“Hey, bagaimana ia tahu namaku dasar lelaki yang menyebalkan. Eh tunggu dia membawa apa itu. Hmm, oh tidak kalung dari Ayah.”, Zahirah juga berlari ke arah lelaki itu.

“Kalungku...”, Zahirah langsung mengambil kalung yang berukiran nama Zahirah.

“Tadi kau menjatuhkannya, maksudku kalungmu jatuh di meja bawah kursi tempat kamu membaca tadi.”, ucap lelaki itu.

“Terima kasih banyak, kalung ini sangat berharga. Sekali lagi terima kasih ya.”

“Ya tentu sama-sama. Hmm, kupikir kau masih marah padaku soal yang tadi.”

“Tidak aku tidak marah apakah wajahku terlihat seperti orang yang sedang marah?”

“Zahirah? Itu namamu? Wajahmu tadi saat bicara di toko buku sepertinya sangat kesal padaku ya? Ya tentu saja kau marah, mulutku ini memang cerewet. Sekali lagi maafkan aku ya aku benar-benar tidak enak padamu.”, sesal lelaki itu.

“Oh iya. Tidak usah seperti itu, kau sudah mengembalikan benda yang sangat aku sayangi aku justru sangat berterima kasih padamu jika kalung ini hilang aku akan sangat sedih. Maafkan aku karena tadi menunjukkan kemarahan lewat wajahku.”

“Tidak usah minta maaf begitu, justru aku lah yang bersalah disini. Sudahlah jangan berdebat ya. Oh ya, namaku Wilson.”, Wilson menjulurkan tangannya. Zahirah langsung menolak dengan sopan

Sorry kau tidak bisa menyentuh tanganku but you can get my smile. Aku Zahirah”, Zahirah menamgkupkan kedua tangannya sambil tersenyum.

Oh no problem”, Wilson tersenyum ramah.

“Oh iya, aku harus pergi. Sampai disini dulu ya, permisi.”

“Baiklah. Sampai jumpa...”

Keduanya pun berlalu.

***

“Assalamualaikum Carolin...”, Zahirah menghampiri sahabatnya yang sedang mendengarkan murojaah dari syekh Taha Al-Junaid.

“Waalaikumsalam Irah yang cantik.....”, Carolin melepaskan heandset di telinganya.

Pasti kamu lagi menghapal surah ya?”

“Iya, tau aja deh kamu. Aku juga ngehapal sambil dengerin suaranya syekh Taha Al-Junaid. Suaranya itu loh bikin aku meleleh Rah. Aku pengen deh punya suami kayak syekh Taha, dia itu suaranya baca Al-qur’an merduuuuu banget, hati ini jadi damai dengerinnya.”

“Iya aku tahu juga Rah, semangat menghapal Carolin. Ya semoga aja Allah memberikan jodoh yang terbaik buat kamu Carolin. Kamu nih udah mikir mau nikah apa?”

“Yeh, kamu yang mikir gitu ya aku enggak lah. Aku tuh ya Irah masih mau nikmatin masa muda aku dulu, masa udah mikir mau nikah huu”, Carolin menjulurkan lidahnya ke arah Zahirah.

“Udah ah, bahas yang kayak gini. Udah nanti aja, kita bahas yang lain aja. Nih aku udah beli yang disuruh miss Jenet, ayo kita baca”, Zahirah menunjukkan buku tebal bersampul warna putih kepada Carolin.

“Oh iya aku lupa Rah, aku belom beli. Yaudah kita baca sekarang yokk dari pada bahas sesuatu yang belum pernah kita rasain.”

            Mereka berdua langsung membolak-balik halaman demi halaman dari buku yang mereka pegang. Mereka duduk di taman kampus yang ada air mancur tepat di depan meraka. Dengan udara pagi yang menyegarkan tak lupa pula lalu lalang mahasiswa dan mahasisiwi lainnya. Saat mereka sedang sibuk membaca buku tiba-tiba ada seorang lelaki yang memanggil nama Zahirah dengan semangat.

“Zahirah ....”

“Wilson.... apa kabar?”

“Ya fine, kamu kuliah disini juga ya? Aku tak menyangka kita bertemu lagi”

“Iya Wilson aku fakultas bisnis. Tapi ngomong-ngomong aku tidak pernah melihatmu, kamu fakultas mana?”

“Aku anak sejarah dan sebentar lagi aku juga akan wisuda, sekarang aku lagi menyelesaikan skripsiku yang terus-terusan saja salah, dosen itu sangat membuatku kesal. Eh maaf, aku mulai cerewet lagi.”, Wilson merasa malu karena sudah berbicara terlalu banyak.

“Ah tidak apa-apa kau memang terlihat seperti anak yang ceria. Ku doakan semoga skripsimu selesai dengan benar ya..”

“Hey heyy.. kalian asyik sendiri, aku ini tak kalian ajak apa?”, gerutu Carolin.

“Oh iya aku lupa, Wilson ini Carolin sahabatku dia juga anak bisnis”, Zahirah menepok keningnya.

“Hallo, senang berkenalan denganmu Carolin aku Wilson”, Wilson menangkupkan kedua tangannya seperti saat Zahirah berkenalan dengannya.

“Iya Wilson, senang berkenalan denganmu, sepertinya kau orang yang asik sama sepertiku hehehehe....”, canda Carolin.

“Ya aku yakin kau pasti tidak akan menyesal telah mengenal aku. Aku ini orangnya selalu ceria meski sedikit cerewet tapi aku tetap gagah bukan?”, Wilson memamerkan ototnya yang tidak terlalu besar itu.

“Hahahah kau ini otot kecil begitu saja sombong sekali dasar cerewet...”, Carolin mengejek Wilson seolah sudah mengenal lama Wilson.

“Hey jangan bicara begitu. Lihat saja nanti ototku ini akan besar dan aku akan terlihat semakin tampan”

“Ya semoga saja, tapi ku yakin kau pasti akan butuh waktu yang lama sedangkan usiamu di kampus ini sudah mau habis bagaimana bisa kau tunjukkan padaku?”

“Ya Carolin apakah kau mau aku cepat-cepat pergi dari kampus ini? Lihat saja kalau aku berhasil kau akan tergila-gila padaku.

“Ya ya ya ... terserah kau saja tuan Wilson ....”

“Hey kalian berdua cocok sekali. Baru beberapa menit tapi kalian sudah terlihat sangat akrab begini”, Zahirah angkat bicara setelah mendengarkan sedikit pembicaraan konyol dari 2 orang temannya itu.

“Hah! Cocok apanya Zahirah? Aku dengan dia, tidak mungkinlah. Dia itu terlalu kepedean”, Carolin langsung menjawab.

“Hey Carolin siapa juga yang mau cocok denganmu, kau itu terlalu genit.”, Wilson membantah.

“Kalian jangan bicara seperti itu bagaimana kalau kalian berdua berjodoh? Hayoo bagaimana?”

“Bagaimana kalau aku denganmu yang berjodoh Zahirah?”, Wilson berharap

“Hey kau sok kepedean sekali ya? Apakah kau tak tahu Zahirah ini sahabatku yang paling cantik dan baik. Dia tidak akan berjodoh denganmu ya, jangan sampai itu terjadi. Aku tidak mau melihat sahabatku tersiksa dan menderita karena harus berjodoh denganmu. Kau itu sangat cerewet sedangkan temanku ini sangat cantik, pintar, dan baik. Jangan sampai-jangan sampai”

“Ya kau bilang saja kau berharap berjodoh denganku. Iya kan? Jelas saja wajahku ini tampan sekali kau pasti terpesona melihatku bukan jadi kau tidak rela jika aku berjodoh dengan Zahirah kan?”

“Hey kau ini! Dasar kepedean, aku tidak mungkin menjadi jodohmu, cam kan itu ya, ...”, Carolin menimpuk kepala Wilson dengan buku tebal yang ia pegang.

“Ya ampun kalian ini, sudah-sudah jangan ribut. Lihatlah kalau Allah berkehendak kalian berdua pasti akan menjadi pasangan, sudah jangan bicara lagi sekarang kita ke kantin perutku ini sudah sangat lapar. Ayo cepat...”, Zahirah menarik tangan Carolin.

“Ya Allah jangan sampai Wilson ini jodohku ku mohon ya Allah”, Carolin menegadahkan kedua tangannya ke atas kemudian mengusapkan di wajahnya.

“Aku juga tidak mau. Sudah ayo kita ke kantin saja, daripada mendengarkan ocehanmu itu Carolin”, Wilson menyusul Zahirah dan Carolin yang sudah duluan darinya.

***

            Zahirah, Carolin, dan Wilson akhirnya menjadi sahabat meski Carolin dan Wilson selalu saja ribut tiap kali bertemu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Setiap hari mereka selalu bertemu dan biasanya setiap hari minggu mereka pergi jalan-jalan keliling kota Ottawa kalau mereka tidak ada tugas. Mereka sudah seperti jarum dan benang yang saling melengkapi. Mereka selalu bercanda dan tertawa bersama. Sebenarnya Wilson menyukai Zahirah sejak pertama kali mereka bertemu. Sampai pada akhirnya perasaan Wilson terhadap Zahirah tidak dapat di pendam lagi. Ia berniat untuk mengungkapkan semua isi hatinya pada Zahirah.

“Pagi Irahh..... “, Wilson datang menghampiri Zahirah yang sedang duduk sendirian sambil memegang handphone.

“Eh Wilson, pagi.... biasanya jam segini kau sudah masuk ke kelasmu lalu kenapa kau belum masuk?”

“Oh, dosenku sedang pergi ke Queebec jadi dia tidak masuk hari ini. Aku bisa bersantai dan bertemu denganmu. Oh iya Carolin si cerewet itu kemana?”

“Oh begitu ya. Cieeee kangen nih yee... giliran orangnya ada aja pasti kalian ribut tapi kalau tidak ada kalian malah saling merindukan, dasar kalian aneh sekali. Kalian memang sangat cocok”

“Ihhh amit deh, siapa juga yang kangen sama si cerewet itu. Sudah Zahirah berhentilah meledekku dengannya aku itu sukanya sama kamu, aku itu cinta sama kamu Irahh. Kau tahu, sejak pertama kita bertemu aku sudah jatuh cinta padamu ku harap kau juga mempunyai perasaan yang sama sepertiku”, Wilson mengungkapkan semua isi hatinya kepada Zahirah dengan menatap lekat kedua mata Zahirah.

“Wilson.... aku udah anggap kamu itu kayak kakak aku. Maaf Wilson aku tidak bisa menerima cintamu, karena aku pengen kita tetap jadi sahabat. Kamu bisa mengerti kan Wil? Aku gak mau persahabatan kita ada perasaan yang lain. Aku pengen kamu anggep aku sebagai sahabat”, Zahirah meyakinkan Wilson.

“Iya Irah aku ngerti. Aku minta maaf ya, aku terlalu berlebihan terhadapmu. Aku mengerti kamu itu emang gak cocok sama aku, karena kamu itu terlalu kecil jadi kamu cocok jadi adek aku aja, badan kamu kan kecil huuu......”, Wilson menyadari cintanya memang tidak akan dibalas oleh Zahirah karena ia tahu Zahirah adalah gadis yang sulit dimengerti. Ia menghibur dirinya sendiri dengan membuat sedikit candaan garing.

“Nah gitu dong, kamu kan juga terlalu berotot jadi kamu itu cocoknya jadi kakakku saja. Lihatlah ototmu semakin membesar kalau Carolin melihatnya, aku yakin ia pasti akan berhenti meledekmu”

“Oh iya ya. Aku jadi inget janjiku sama si cerewet itu, nah ini saatnya pembuktian. Setelah dia melihatku pasti dia akan memujiku dan ia akan terdiam. Ayo kita jenguk dia, dia kan lagi sakit. Kalau tidak ada si cerewet itu rasanya sepi sekali ya?’

“Ya semoga saja dia berhenti meledekmu ya, ayo kita ke rumah kontrakannya lagian aku masuk 2 jam lagi.”

Mereka berdua pergi menuju kontrakan Carolin yang tidak jauh dari kampus mereka. Zahirah dan Wilson membawa roti keju panggang kesukaan Carolin. Tak lama setelah itu, mereka sampai di kontrakan Carolin. Rumahnya berwarna tosca dan ada sedikit warna merah muda. Rumah ini nampak cantik walau minimalis. Sebenarnya kalau Carolin mau dia sangat mampu untuk membeli apartemen yang harganya paling mahal sekalipun tapi, ia tidak mau tinggal di apartemen. Ia lebih memilih tinggal di kontrakan minimalis itu karena menurutnya apartemen terlalu besar untuknya yang tinggal sendirian. Carolin dan Wilson yang sudah sampai tepat di depan pintu rumah Carolin langsung mengetok pintu rumah Carolin.

“Assalamualaikum Carolin...”,ucap Zahirah sambil mengetok pintu rumah minimalis itu.

“Waalaikumsalam, eh Zahirah. Ayo masuk, Carolin lagi tiduran disana badannya panas sekali tapi syukurlah sekarang sudah sedikit membaik.”, jelas bibinya Carolin yang sudah lama mengenal Zahirah karena Zahirah sering menemani Carolin mengunjungi rumah bibinya yang juga berada di kota Ottawa.

“Oh, syukurlah bibi. Oh ya bi ini Wilson teman kami.”

“Wilson bi aku temannya keponakanmu bi, boleh aku menjenguknya?”, tanya Wilson sopan.

“Oh tentu saja nak, ayo kalian masuklah”

Zahirah dan Wilson masuk kerumah Carolin.

“Hey cerewet aku datang.... lihat aku membawa roti keju panggang kesukaanmu. Ayo cepatlah makan ini dan kau akan segera sembuh. Ayo cepat bangun...”, Wilson membuka bungkusan roti yang ia bawa.

“Ah ternyata kau datang ya? Aku pasti akan sulit sembuh karena melihat mukamu, eh tunggu mana rotinya sini cepatt”, Carolin mencoba bangun dan meraih roti di tangan Wilson dengan cekatan.

“Dasar kau ini soal makan saja langsung sembuh. Kau ini tidak sakit, tapi kau lapar...”, ledek Wilson.

“Hey Wilson jangan begitu tidak enak dengan bibinya Carolin. Suaramu nanti mengganggunya ....”, ucapan Zahirah terpotong karena bibinya Carolin sudah membawakan dua gelas jus lemon dan sedikit camilan di mangkuk.

“Hey Wilson, Carolin tidak apa-apa kalian tidak mengganggu bibi malah merasa senang kalian sudah menengok keponakan bibi yang bandel ini. Nah ayo minum ini”, bibinya Carolin memberikan jus itu kepada Zahirah dan Wilson.

“Ah bibi, aku tidak bandel...”, rengek Carolin.

“Ya tidak bandel tapi nakal hahahahaha.....”, Wilson memotong perkataan Carolin.

“Ih langsing kau ini menjengkelkan sekali, diam kau....”, Carolin mengancam Wilson.

“Ya kalian beginilah kalau bertemu coba kalau tidak bertemu pasti saling merindukan..”, ledek Zahirah.

“Zahirah ....”, Wilson dan Carolin kompak.

“Hey sudah-sudah ayo Carolin kau habiskan roti yang temanmu bawa setelah itu minum obat ini dan kalian, Wilson Zahirah. Ayo makanlah ini”, Bibi meredakan suasana.

            Cukup lama Zahirah, Wilson, dan Carolin bercakap-cakap sambil memakan camilan. Carolin juga terlihat sudah membaik. Suhu tubuhnya sudah kembali normal dan besok mungkin Carolin akan segera sembuh. Ini adalah energi positif yang dibawa sahabat-sahabatnya. Ia juga sering tertawa sekaligus jengkel akibat ulah Wilson yang memang sedikit konyol. Namun, hal itu membuat mereka saling menyayangi satu sama lain walau banyak perbedaan diantara mereka tapi mereka selalu saling mendukung baik dalam suka maupun duka. Tak terasa sudah hampir 2 jam Zahirah dan Wilson berada di kontrakan Carolin dan mereka akan segera kembali ke kampus.

“Terima kasih ya Zahirah cungkring, kalian udah dateng dan bawa roti keju panggang yang lezat ini. Hati-hati di jalan ya....”

“Oke cerewet, kami akan kembali ke kampus dan kamu harus cepat sembuh ya. Terus jangan lupa minum obat dan jangan jadi keponakan yang bandel ya, jangan nyusahin bibi kamu yang baik itu yaa...”, cerocos Wilson yang sudah seperti ibu-ibu.

“Sekarang aku atau kamu sih yang cerewet, bawel banget deh.. udah cepat ke kampus, Zahirah kamu kan bentar lagi masuk. Udah tinggalin aja nih si cungkring”, balas Carolin yang berdiri di depan pintu rumah kontrakannya itu.

“Iya, iya kami balik ke kampus kamu jaga kesehatan kamu ya, oh ya bi kami pamit ya terima kasih camilannya bi, enak sekali. Assalamualaikum...”, ucap Zahirah.

Zahirah dan Wilson pergi ke arah kampus mereka sedangkan Carolin dan bibinya masuk lagi kerumah kontrakan minimalis itu.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kata kerja masu dalam bahasa jepang beserta terjemahannya

 No Kata kerja dasar golongan Kata kerja masu   ます Arti 1 Kau かう 1 kaimasu かいます Membeli 2 A u あう 1 aimasu あいます Bertemu 3 Utau うたう 1 utaimasu うたいます Melagukan 4 Matsu まつ 1 Machimasu まちます Menunggu 5 Tatsu たつ 1 Tachimasu たちます Berdiri 6 Wakatsu わかつう 1 wakachimasu わかちます Membagikan 7 Nor u のる 1 Narimasu なります Naik 8 Tsukuru つくる 1 Tsukurimasu つくります Membuat 9 Wakaru わかる 1 Wakarimasu わかります Mengerti 10 Asobu あそぶ 1 asobimasu あそびます Bermain 11 Tobu とぶ 1 Tobimasu とびます Terban...

contoh Recount text

Recount Text adalah teks yang menceritakan suatu kejadian yang telah terjadi atau secara singkat, recount text adalah teks yang menceritakan ulang suatu kejadian atau peristiwa yang telah terjadi. Pada tulisan saya kali ini, saya akan memberikan 3 contoh recouny text. Contoh Recount Text : 1. Antusiasme Guru SMANDA Dalam Memperingati HUT PGRI Ke-70 Tepat pada tanggal 25 November 2015 seluruh sekolah memperingati hari guru nasional yang ke-70 atau yang lebih dikenal dengan HUT PGRI ke-70 tak terkecuali SMA Negeri 2 Unggul Sekayu. Hari ini, pukul 07.30 WIB seluruh warga SMA Negeri 2 Unggul Sekayu dikumpulkan di lapangan SMANDA, akan tetapi upacara kali ini berbeda dari biasanya karena petugas upacaranya dari kalangan guru. Pada saat itu para guru yang menjadi tugas upacara sibuk latihan dengan tugasnya masing-masing. Diantara mereka yang menjadi petugas yaitu, ibu Nur sebagai wakil dari kepala sekolah sebagai pembina upacara, pak Darmawan sebagai pemimpin upacara, ibu Suci s...

contoh teks eksplanasi media sosial

Media Sosial Media sosial merupakan saluran atau sarana pergaulan sosial secara online di dunia maya dimana para penggunanya dapat dengan mudah mencari teman, mengirim pesan, membagikan berita, dan aktivitas lainnya. Sebagai salah satu media komunikasi, media sosial tidak hanya dimanfaatkan untuk berbagi informasi dan inspirasi, tetapi juga ekspresi diri, pencitraan diri, dan ajang curhat, bahkan keluh - kesah dan sumpah - serapah. Saat ini, media sosial sepertinya sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Tua muda, pria wanita, bos besar sampai Office boy pun sepertinya sudah mengenal dan mengetahui tentang media sosial. Beberapa media sosial yang populer di Indonesia yaitu facebook, twitter, instagram, google plus, ask fm, tumblr, flickr, pinterest, path, dan beberapa sosial chat seperti bbm, line, whats app, dan lain sebagainya. Perkembangan teknologi informasi yang pesat merupakan salah satu penyebab booming nya media sosial. Zaman sekarang med...