Langsung ke konten utama

Metode Ilmiah dan Paradigma Penelitian

Tugas Makalah 


Mata Kuliah Filsafat ilmu dan Dasar-dasar Logika

Metode Ilmiah dan Paradigma Penelitian



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

                        Pengetahuan (knowledge) adalah segala hal yang diketahui secara langsung dari pengalaman melalui pancaindra manusia dan diolah oleh akal budi manusia. Sedangkan ilmu adalah proses penyelidikan yang berdisplin. Tujuan dari ilmu adalah untuk meramalkan dan memahami gejala-gejala alam. Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang telah diolah kembali dan disusun secara metodis, sistematis, konsisten dan koheren. Agar pengetahuan menjadi ilmu, maka pengetahuan tadi harus dipilah (menjadi suatu bidang tertentu dari kenyataan) dan disusun secara metodis, sistematis serta konsisten. Tujuannya agar pengalaman tadi bisa diungkapkan kembali secara lebih jelas, rinci dan setepat-tepatnya.

                        Metodis berarti dalam proses menemukan dan mengolah pengetahuan menggunakan metode tertentu. Sistematis berarti dalam usaha menemukan kebenaran dan menjabarkan pengetahuan yang diperoleh, menggunakan langkah-langkah tertentu yang teratur dan terarah sehingga menjadi suatu keseluruhan yang terpadu. Koheren berarti setiap bagian dari jabaran ilmu pengetahuan itu merupakan rangkaian yang saling terkait dan berkesesuaian (konsisten).

                        Sedangkan suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan disebut penelitian (research). Usaha-usaha itu dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah adalah suatu secara yang sistematis dan metodis yang digunakan oleh para ilmuan untuk memecahkan suatu masalah. Metode ilmiah adalah prosedur untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Metode ilmiah disebut juga dengan langkah-langkah dalam penelitian. Dalam hal ini ada yang dikenal dengan istilah paradigma penelitian.

                        Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang seorang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori, yang dikonstruksi sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. Dalam hal ini peneliti memiliki dua sudut pandang dalam mengkaji sebuah ilmu pengetahuan. Yaitu penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif adalah salah satu model penelitian humanistik yang menempatkan manusia dalam objek utama dalam peristiwa sosial dan budaya. Penelitian kualitatif dibangun berlandaskan paradigma fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1926). Penelitian kualitatif memandang realitas sosial yang terjadi atau tampak tidak hanya dari penyebab terjadinya, tetapi dicari sampai kepada makna dibalik terjadinya realitas sosial yang tampak. Sedangkan penelitian kuantitatif dibangun berdasarkan paradigma positivisme dari August Comte (1798-1857). Penelitian kuantitatif yaitu pengetahuan yang berawal dan didasarkan pada pengalaman (experience) yang tertangkap lewat pancaindera untuk kemudian diolah oleh nalar (reason).

Maka dalam makalah ini kami akan menjelaskan lebih lengkap lagi mengenai metode ilmiah, paradigma penelitian, dan penelitian kuantitatif dan kualitatif.



B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Apa yang dimaksud dengan metode ilmiah?

2.      Apa yang dimaksud dengan pardigma penelitian?

3.      Apa perbedaan antara paradigma penelitian kualitatif dan paradigma penelitian kuantitatif?



C.    TUJUAN

Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah filsafat dan dasar-dasar logika.  Agar pokok bahasan dalam makalah ini yang meliputi metode ilmiah, paradigma penelitian, dan jenis-jenis paradigma penelitian berupa kualitatif dan kuantitatif dapat dibahas bersama dalam pertemuan kelas serta untuk menambah wawasan mahasiswa dalam memahami bagaimana ilmu pengetahuan didapatkan melalui metode ilmiah dan paradigma penelitian.

D.    MANFAAT

Mengacu pada tujuan dari pembuatan makalah ini, maka diharapkan makalah ini dapat membantu mahasiswa dalam memahami tahapan-tahapan dalam memperoleh ilmu pengetahuan, dapat mengetahui langkah-langkah metode ilmiah, serta dapat membedakan antara paradigma penelitian kualitatif dan paradigma penelitian kuantitatif.

BAB II

ISI

A.      Metode Ilmiah

1.      Pengertian Metode Ilmiah

Metode ilmiah atau proses ilmiah (bahasa Inggrisscientific method) merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisik. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alamPrediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

Penelitian atau metode ilmiah umumnya fokus melakukan identifikasi terhadap masalah yang harus dipecahkan, pengumpulan data, lalu menanalisis data dan menarik kesimpulan yang tepat. Penelitian ini sifatnya sangat objektif, karena tidak berdasarkan pada perasaan, pengalaman maupun intuisi seorang peneliti yang sifatnya subjektif.

2.      Tujuan metode ilmiah

Tujuan dari metode ilmiah yang paling utama tentunya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang rasional dan sudah teruji, sehingga pengetahuan tersebut dapat digunakan dan diandalkan. Adapun beberapa fungsi lainnya, yaitu :

1.      Untuk pembuktian terhadap suatu kebenaran yang dapat diatur oleh pertimbangan yang logis.

2.      Untuk mencari pengetahuan yang dimulai dari penemuan masalah yang harus dipecahkan atau dicari solusinya, pengumpulan data, menanalisis data dan diakhiri dengan menarik suatu kesimpulan.

3.      Membantu memecahkan masalah dengan pembuktian yang dimana buktinya dapat memuaskan.

4.      Dapat menguji penelitian yang telah dilakukan orang lain sehingga didapatkan kebenaran yang objektif dan juga memuaskan, dan lain-lain.

5.      Dengan metode ilmiah maka akan menghasilkan penemuan yang memiliki kualitas tinggi, sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan umat manusia.







3.      Kriteria-kriteria pada metode ilmiah

Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut dengan Metode Ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai beberapa kriteria yang sebagai berikut:

a.      Berdasarkan kenyataan atau fakta.

Keterangan, data dan informasi yang ingin didapatkan, baik itu yang dikumpulkan maupun yang dianalisa harus berdasarkan fakta. Jangan penemuan yang berdasarkan khayalan, legenda, kira-kira dan lain-lain. Jadi intinya harus berdasarkan kenyataan atau fakta yang benar-benar ada.

b.      Bebas dari Prasangka

Harus bersifat bebas dari prasangka dan pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya subjektif. Fakta harus dengan alasan dan berdasarkan bukti yang jelas serta objektif. Jadi suatu penelitian harus menunjukan adanya kesesuaian dengan Hipotesis.

c.       Memakai prinsip analisa

Dalam memahami dan memberikan arti pada permasalahan yang kompleks, haruslah menggunakan prinsip-prinsip analisa. Masalah harus dicari sebab dan juga pemecahannya dengan menggunakan prinsip analisis yang logis. Fakta-fakta yang dapat mendukung tidak dibiarkan sebagaimana adanya atau hanya dibuat derkripsinya saja, akan tetapi semua fakta dan kejadian harus dicari sebab maupun akibatnya dengan menggunakan analisa.

d.      Menggunakan hipotesis

Pada metode ilmiah, seseorang yang melakukan penelitian harus dituntun dalam proses berfikir menggunakan prinsip analisa. Hipotesis diperlukan untuk memandu pikiran ke arah tujuannya, sehingga hasil yang nanti didapatkan akan mengarah kepada sasarannya.

e.       Menggunakan ukuran yang objektif

Seseorang yang melakukan penelitian harus memiliki sikap yang objektif dalam mencari kebenaran. Data dan fakta yang ada harus dianalisis secara objektif, pertimbangan maupun penarikan kesimpulan dari penelitian arus menggunakan pikiran yang benar-benar jernih jadi bukan berdasarkan perasaan seorang peneliti.

f.       Menggunakan teknik kuantifikasi

Data ukuran yang sifatnya kuantitatif (jumlah satuan angka) yang biasa haruslah digunakan. Jika terdapat data ukuran misalnya seperti mm, kg, ohm, per detik dan lain-lain harus digunakan. Teknik kuantifikasi yang sering digunakan dan tergolong mudah umumnya menggunakan ukuran rating, ranking dan nominal.

4.      Cara atau langkah-langkah metode ilmiah

·         Melakukan Observasi

Dalam peroses observasi seorang peneliti akan melakukan identifikasi terhadap sifat-sifat utama yang dimiliki oleh subjek yang akan diteliti. Proses ini dapat melibatkan proses penentuan definisi maupun observasi. Observasi sering sekali membutuhkan perhitungan atau pengukuran yang teliti.

Pengukuran dapat dilakukan di tempat-tempat tertentu misalnya seperti di laboratorium dan lain-lain. Proses pengukuran juga sering memerlukan peralatan misalnya seperti termometer jika akan mengukur suhu ataupun peralatan lainnya yang sesuai dengan objek yang diteliti. Lalu hasil dari pengukuran biasanya dimasukan kedalam sebuah tabel atau bisa juga digambarkan dalam bentuk grafik dan diproses dengan cara statistika. Di dalam pengukuran karya ilmiah biasanya akan disertai dengan estimasi (metode memperkirakan nilai dari suatu populasi dengan menggunakan nilai yang didapatkan dari sampel) ketidakpastian hasil dari pengukuran yang dilakukan. Dan ketidakpastian itu biasanya sering diestimasikan dengan melakukan pengukuran berulang-ulang dari kuantitas yang diukur.

·         Melakukan identifikasi masalah.

Perumusan masalah merupakan keharusan dalam metode ilmiah. Permasalahan dinyatakan dalam bentuk pertanyaan, dengan menggunakan kalimat tanya. Dengan pertanyaan tersebut maka diharapkan dapat mempermudah orang untuk melakukan metode ilmiah, untuk mengumpulkan data atau informasi yang diperlukan, melakukan analisis terhadap data tersebut dan menyimpulkannya.

·         Menyatakan hipotesis.

Hipotesis dapat dikatakan sebagai suatu ide atau dugaan sementara penyelesaian permasalahan yang terdapat dalam penelitian ilmiah. Hipotesis sangat berguna untuk memungkinkan prediksi yang berdasarkan deduksi. Prediksi ini dapat meramalkan hasil dari eksperimen yang dilakukan. Dan hipotesis tersebut belum tentu diketahui akan kebenarannya.

·         Melakukan eksperimen.

Tujuan melakukan Eksperimen yaitu untuk menguji Hipotesis yang telah diajukan. Perhitungkanlah semua variabel yang ada, yaitu semua yang mempengaruhi eksperimen yang dilakukan. Hasil dari eksperimen akan meningkatkan probabilitas kebenaran hipotesis. Hasil eksperimen dapat menyalahkan hipotesis apabila hasilnya bertentangan dengan hipotesis. Melakukan pencatatan yang detail pada hasil eksperimen sangatlah penting, karena untuk membantu dalam laporan eksperimen dan memberikan bukti efektivitas serta keutuhan dari cara-cara yang dilakukan.

·         Menyimpulkan hasil dari eksperimen.

Seseorang yang melakukan metode ilmiah mungkin saja akan mengulangi langkah-langkah yang lebih awal karena pertimbangan-pertimbangan tertentu. Ketidakberhasilan untuk membentuk kesimpulan yang menarik atau tepat dapat membuat seorang peneliti mempertimbangkan ulang subjek yang dipelajarinya. Karena ketidakberhasilan hipotesis dalam menghasilkan prediksi atau ramalan yang menarik dan teruji dapat membuat seorang peneliti mempertimbangkan hasilnya. Dapat juga membuat seorang peneliti mempertimbangkan ulang metode dari eksperimen bahkan hipotesis yang mendasarinya. Sering sekali eksperimen dalam metode ilmiah tidak dilakukan oleh orang yang membuat prediksi, karakterisasi didasarkan dari eksperimen yang dilakukan orang lain.

Kesimpulan ilmiah dapat dikatakan sebagai ringkasan dari hasil eksperimen yang dilakukan dan pernyataan bagaimana hubungan antara hasil yang didapatkan dari eksperimen dengan Hipotesis.

B.      Paradigma Penelitian

1.      Pengertian

Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn (1962) dan kemudian dipopulerkan oleh Robert Friedrichs (1970). Menurut Kuhn, paradigma adalah cara mengetahui realitas sosial yang dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu yang menghasilkan mode of knowing yang efektif. Sedangkan menurut Friedrichs, sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari.

Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori. Paradigma penelitian juga menjelaskan bagaimana peneliti memahami suatu masalah, serta kriteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitian.

Secara umum, paradigma penelitian diklasifikasikan dalam 2 kelompok yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif (Indiantoro & Supomo, 1999: 12-13). Masing-masing paradigma atau pendekatan ini mempunyai kelebihan dan juga kelemahan, sehingga untuk menentukan pendekatan atau paradigma yang akan digunakan dalam melakukan penelitian tergantung pada beberapa hal di antaranya:

·         Jika ingin melakukan suatu penelitian yang lebih rinci yang menekankan pada aspek detail yang kritis dan menggunakan cara studi kasus, maka pendekatan yang sebaiknya dipakai adalah paradigma kualitatif.

·         Jika penelitian yang dilakukan untuk mendapat kesimpulan umum dan hasil penelitian didasarkan pada pengujian secara empiris, maka sebaiknya digunakan paradigma kuantitatif.

·         Jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang penerapannya luas dengan obyek penelitian yang banyak, maka paradigma kuantitatif yang lebih tepat, dan jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang mendalam dan detail khusus untuk satu obyek penelitian saja, maka pendekatan naturalis lebih baik digunakan. Hasil penelitian akan memberi kontribusi yang lebih besar jika peneliti dapat menggabungkan kedua paradigma atau pendekatan tersebut. 

            Penggabungan paradigma tersebut dikenal istilah triangulation. Penggabungan kedua pendekatan ini diharapkan dapat memberi nilai tambah atau sinergi tersendiri karena pada hakikatnya kedua paradigma mempunyai keunggulan-keunggulan.

Definisi paradigma ilmu itu amat beragam, hal ini didasarkan pada pandangan dan pemikiran filsafat yang dianut oleh masing-masing ilmuwan berbeda-beda. Dimana, masing-masing aliran filsafat tersebut memiliki cara pandang sendiri tentang hakikat sesuatu serta memiliki ukuran-ukuran sendiri tentang kebenaran.

Perbedaan aliran filsafat yang dijadikan dasar berpikir oleh para ilmuwan tersebut, kemudian berakibat pada perbedaan paradigma yang dianut, baik menyangkut tentang hakikat apa yang harus dipelajari, obyek yang diamati, atau metode yang digunakan. Perbedaan paradigma yang dianut para ilmuan ternyata tidak hanya berakibat pada perbedaan skema konseptual penelitian, melainkan juga pada pendekatan yang melandasi semua proses dan kegiatan penelitian.

2.      Paradigma Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif

1.      Paradigma penelitian kualitatif

Penelitian kualitatif merupakan suatu model penelitian yang bersifat humanistik, dimana manusia dalam penelitian ini ditempatkan sebagai subyek utama dalam suatu peristiwa sosial. Dalam hal ini hakikat manusia sebagai subyek memiliki kebebasan berfikir dan menentukan pilihan atas dasar budaya dan sistem yang diyakini oleh masing-masing individu.

Dalam penelitian kualitatif ini, proses penelitian menjadi lebih penting dari pada sekedar hasil. Dalam penelitian kualitatif, proses menjadi hal yang amat harus diperhatikan, dimana peneliti sebagai pengumpul instrumen harus mampu menempatkan dirinya pada posisi seobjektif mungkin sehingga data yang dikumpulkan menjadi data yang mampu untuk di pertanggungjawabkan.

a.       Pendekatan Penelitian Kualitatif

Terdapat beberapa pendekatan berdasarkan penelitian kualitatif, antara lain:

·         Pendekatan Fenomenologi

Menurut Bogdan dan Biklen peneliti dengan pendekatan fenomenologis berusaha memahami makna dari suatu peristiwa dan bagaimana peristiwa tersebut pengaruhya dengan manusia dalam kondisi dan situasi tertentu.

Karakteristik lain dari pendekatan fenomenologis adalah sebagai berikut.

1.      Tidak berasumsi mengenai berbagai hal yang dianggap berarti bagi bagi manusia yang menjadi subjek penelitian.

2.      Memulai suatu penelitian dengan ketenangan berfikir guna mengungkap apa yang sedang diteliti.

3.      Melakukan penelitian secara mendalam sampai pada aspek subyektif perilaku manusia, sampai ke dalam dunia konseptual subjek sehingga mampu memahami makna bagaimana dan apa yang terkonstruksi di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari dari mereka yang diteliti.

4.      Mempercayai adanya banyak cara dalam kehidupan manusia yang dapat digunakan untuk menafsirkan pengalaman dari setiap individu melalui interaksinya dengan orang lain yang akan menimbulkan makna atas pengalaman tersebut menjadi sebuah realita.

5.      Dalam pendekatan ini penelitian kualitatif menggunakan pendekatan yang mana peneliti menggunakan pandangan dari subjek yang ditelitinya.

·         Interaksi Simbolik

Interaksi simbolik merupakan suatu kerangka fenomenologi yang lebih baik dan terjabarkan atas pokok-pokok pemikiran yang lebih kongkrit. Pokok–pokok pikiran pendekatan interaksi simbolik adalah sebagai berikut:

1.      Sesuai dengan dasar dan perspektif fenomenologis, dimana interaksi simbolis berasumsi bahwa pengalaman manusia dijembatani oleh pemaknaan terhadap suatu peristiwa yang dialami.

2.      Manusia bertindak bukan atas dasar reaksi atau respon atas suatu yang ditetapkan sebelumnya, melainkan merupakan interpretasi dan pendefisian yang hanya dapat diketahui jika peneliti terlibat dalam proses interprestasi dan pendefinisian tersebut melalui observasi partisipan.

3.      Interaksi bukan kegiatan yang terjadi begitu saja dan bukan pula kegiatan yang diataur sedemikian rupa.

4.      Interpretasi menjadi hal yang esensial dimana Interaksi simbolik menjadi paradigma yang menjelaskan secara konseptual.

5.      Teori dalam pendekatan ini bukanlah sebuah norma, aturan atau regulasi tertentu. Tetapi bagaimana teori ini dapat didefinisikan dan dan digunakan dalam situasi dan kondisi yang bersifat khusus.

·         Etnometodologi

Etnometodologi merupakan pendekatan yang lebih fokus pada bidang kajian yang diteliti atau subjek matter. Bidang kajian etnometodelogi bukanlah suatu masyarakat yang khusus pada peristiwa tertentu, melainkan orang-orang yang berada dalam berbagai situasi dan kondisi yang ada dalam masyarakat.

Etnometodologi membahas berbagai hal untuk mengarti bagaimana dan apa yang manusia kerjakan, bagaimana menusia melihat dan menelaskan suatu peristiwa, bagaimana mendeskripsikan berbagai urutan dan golongan serta bagaimana tata tertib mengatur manusia dalam dunia dan lingkungan serta sistem dimana manusia itu hidup.

b.      Manfaat Mempelajari Paradigma Penelitian Kualitatif

Sebagai pembelajar dalam rumpun ilmu sosial wajib bagi kita untuk mengetaui paradigma penelitian kualitatif. Dimana paradigma penelitian kualitatif ini merupakan salah satu yang wajib dalam kita ketahui dalam rangka memperdalam keilmuan ilmu sosial. Hal ini disebabkan bahwasanya keilmuan sosial yang menjadikan manusia sebagai subjek utamanya memiliki suatu perkemangan yang dinamis sehingga arus diungkap melalui sebuah metode yang mampu menjawab berbagai persoalan yang terikat dengan kehidupan manusia tersebut.

Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengetahui secara mendalam bagaimana sebuah peristiwa terjadi dan berbagai hal yang terkait dari peristiwa sosial tersebut melalui sebuah metode yang menjadikan observasi dan pendapat subjek sebagai sumber utama sehingga mampu mengungkap sampai pada apa yang menjadi akar permasalahnya. Dimana dalam hal ini angka dalam pendekatan kuantitatif tidak mampu menjawab suatu peristiwa sosial dampai pada akar permasalahannya.

2.      Paradigma penelitian kuantitatif

Secara singkat, penelitian kuantitatif didefinisikan sebagai bentuk usaha pencatatan data hasil penelitian dalam bentuk jumlah tertentu. Hasil penelitian kuantitatif juga bisa dinyatakan dalam bentuk statistik atau pun angka angka. Secara luas, penelitian kuantitatif diartikan sebagai teknik penelitian ilmiah yang menggunakan metode statistik, yakni dengan mengumpulkkan, menyusun, meringkas dan mempresentasikan data hasil penelitian dalam bentuk angka atau statistik. Dari hasil penelitian ini, peneliti membuat kesimpulan dan keputusan yang logis.

Penelitian kualitatif lebih mengutamakan pada proses dan persepsi atau makna sementara penelitian kuantitatif berfokus pada hasil penelitian yang berbentuk angka atau statistika. Penelitian kuantitatif memiliki prosedur dan kerangka acuan yang baku dan pasti sementara penelitian kualitatif lebih bersifat fleksibel mengikuti proses dari penelitian itu sendiri.       

a.      Pendekatan Penelitian Kuantitatif

Paradigma penelitian kuantitatif sendiri memilki pendekatan khas yang patut untuk diperhatikan. Dengan memahami sifat dari penelitian kuantitatif, peneliti akan lebih mudah mengambil arah yang benar dalam menentukan topik penelitian, menyusun data, membuat analisis dan laporan penelitian. Berikut beberapa pendekatan penting dari penelitian kuantitatif

·         Memakai pola pemikiran deduktif, yakni rasional empiris atau top down approach. Pola ini artinya penelitian kuantitatif akan mencoba memahami fenomena atau kejadian dengan konsep atau teori yang umum terlebih dahulu untuk kemudian menjelaskan kejadian yang bersifat lebih khusus.

·         Dalam penelitian kuantitatif, digunakan logika jenis positivistik. Dalam logika ini, artinya penelitian kuantitatif menghindari segala yang bersifat subjektif.

·         Dalam penelitian kuantitatif pula telah ditentukan diawal tentang prosedur penelitian. Peneliti harus mengikuti prosedur sesuai dengan rencana awal penelitian.

·         Penelitian kuantitatif memiliki tujuan untuk menyusun ilmu nomotetik. Ilmu ini memilki arti ilmu yang berusaha membuat hukum dari generalisasi hukum itu sendiri.

·         Tidak hanya prosedur, hampir segala hal dalam penelitian kuantitatif harus sesuai dengan rencana awal penelitian. Hal hal tersebut antara lain subjek penelitian, data yang diambil, sumber data yang akan dikumpulkan dan alat yang dipakai untuk mengambil data. Peneliti harus konsisten dan disiplin terhadap hal hal tersebut.

·         Pengumpulan data dalam penelitian kuantitatif dilakukan dengan melakukan pengukuran. Pengukuran ini sendiri harus menggunakan alat yang baku dan objektif, seperti yang telah disebutkan diatas.

·         Seorang peneliti dalam penelitian kuantitatif harus menempatkan dirinya terpisah dari objek penelitian. Ini artinya, peneliti tidak boleh terlibat secara emosional dengan subjek penelitannya.

·         Analisis data dalam penelitian kuantitatif harus dilakukan setelah seluruh data dapat dikumpulkan

·         Hasil penelitian kuantitatif  adalah prediksi dan generalisasi terlepas dari konteks situasi dan waktu dilakukannya penelitian

b.      Penerapan Paradigma Penelitian Kuantitatif

Seperti dijelaskan sebelumnya, salah satu metode yang digunakan dalam penelitian kuantitatif adalah metode deduktif. Metode ini sering digunakan dalam penelitian kuantitatif analitik. Menurut metode ini, teori ilmiah yang telah diketahui dan diterima kebenarannya oleh masyarakat luas boleh dijadikan suatu acuan untuk mencari kebenaran dalam penelitian selanjutnya.

Dalam penerapan paradigma penelitian kuantitatif, peneliti harus mengerti benar metode penelitian yang digunakan dan cara mengaplikasikannya. Suriasumantri dalam bukunya Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik menjelaskan secara umum tentang kerangka berpikir ilmiah yang bisa menjadi sarana penerapan paradigma penelitian kuantitatif. Berikut adalah langkah langkah penelitian kuantitatif dalam penerapannya:

1.      Melakukan perumusan masalah. Dalam hal ini peneliti harus membuat pertanyaan tentang objek empiris dengan batas batas yang jelas. Peneliti juga wajib mampu mengidentifikasi faktor faktor yang mempengaruhi objek penelitian.

2.      Membuat kerangka berpikir. Dalam menyusun hipotesis, peneliti harus mampu menjelaskan hubungan antara beberapa faktor yang membentuk permasalahan penelitian. Kerangka berpikir harus disusun dengan rasional yang didasarkan oleh premis ilmiah yang telah diketahui kebenarannya. Tidak lupa faktor faktor bersifat empiris yang berhubungan dengan permasalahan wajib dijadikan pertimbangan.

3.      Membuat rumusan hipotesis. Hipotesis adalah jawaban sementara atau dapat dikatakan dugaan terhadap pertanyaan yang diberikan di awal penelitian. Isi dari hipotesis ini adalah kesimpulan dari kerangka berpikir peneliti yang telah dikembangkan sebelumnya.

4.      Melakukan pengujian hipotesis. Uji hipotesis ini berupa pengumpulan data data berupa fakta yang berhubungan dengan hipotesis. Pengujian ini dilakukan untuk menunjukan apakah ada fakta yang mendukung hipotesis peneliti atau malah berbanding terbalik dengan hipotesis.

5.      Menarik kesimpulan. Pada bagian ini, peneliti akan menilai apakah hipotesis yang diajukan sebelumnya dapat ditolak atau diterima.

 BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

      Kesimpulannya dalam memperoleh suatu ilmu pengetahuan seorang ilmuan akan menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah ialah proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisik. Tujuan dari metode ilmiah adalah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang rasional dan sudah teruji, sehingga pengetahuan tersebut dapat digunakan dan diandalkan. Langkah-langkah metode ilmiah meliputi observasi, identifikasi masalah, menyatakan hipotesis, melakukan eksperimen, dan menyimpulkan hasil dari eksperimen.

      Dalam melakukan metode ilmiah, ilmuan memiliki pandangan atau paradigma yang berbeda-beda. Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori. Paradigma penelitian ada 2 yaitu paradigma penelitian kualitatif dan paradigma penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif lebih mengutamakan pada proses dan persepsi atau makna sedangkan penelitian kuantitatif berfokus pada hasil penelitian yang berbentuk angka atau statistika. Walaupun berbeda paradigma penelitiannya, para peneliti tetap menggunakan metode ilmiah sebagai landasan dalam memperoleh suatu ilmu pengetahuan.
















DAFTAR PUSTAKA



3.      Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2006), Cet. ke-16.

4.      https://pakarkomunikasi.com/paradigma-penelitian-kuantitatif diakses pada tanggal 22/11/2017

5.      https://pakarkomunikasi.com/paradigma-penelitian-kualitatif diakses pada tanggal 22/11/2017

6.      http://rudicahyo.com/creative-learning/arti-paradigma-penelitian/ diakses pada tanggal 22/11/2017









 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

kata kerja masu dalam bahasa jepang beserta terjemahannya

 No Kata kerja dasar golongan Kata kerja masu   ます Arti 1 Kau かう 1 kaimasu かいます Membeli 2 A u あう 1 aimasu あいます Bertemu 3 Utau うたう 1 utaimasu うたいます Melagukan 4 Matsu まつ 1 Machimasu まちます Menunggu 5 Tatsu たつ 1 Tachimasu たちます Berdiri 6 Wakatsu わかつう 1 wakachimasu わかちます Membagikan 7 Nor u のる 1 Narimasu なります Naik 8 Tsukuru つくる 1 Tsukurimasu つくります Membuat 9 Wakaru わかる 1 Wakarimasu わかります Mengerti 10 Asobu あそぶ 1 asobimasu あそびます Bermain 11 Tobu とぶ 1 Tobimasu とびます Terban...

contoh Recount text

Recount Text adalah teks yang menceritakan suatu kejadian yang telah terjadi atau secara singkat, recount text adalah teks yang menceritakan ulang suatu kejadian atau peristiwa yang telah terjadi. Pada tulisan saya kali ini, saya akan memberikan 3 contoh recouny text. Contoh Recount Text : 1. Antusiasme Guru SMANDA Dalam Memperingati HUT PGRI Ke-70 Tepat pada tanggal 25 November 2015 seluruh sekolah memperingati hari guru nasional yang ke-70 atau yang lebih dikenal dengan HUT PGRI ke-70 tak terkecuali SMA Negeri 2 Unggul Sekayu. Hari ini, pukul 07.30 WIB seluruh warga SMA Negeri 2 Unggul Sekayu dikumpulkan di lapangan SMANDA, akan tetapi upacara kali ini berbeda dari biasanya karena petugas upacaranya dari kalangan guru. Pada saat itu para guru yang menjadi tugas upacara sibuk latihan dengan tugasnya masing-masing. Diantara mereka yang menjadi petugas yaitu, ibu Nur sebagai wakil dari kepala sekolah sebagai pembina upacara, pak Darmawan sebagai pemimpin upacara, ibu Suci s...

contoh teks eksplanasi media sosial

Media Sosial Media sosial merupakan saluran atau sarana pergaulan sosial secara online di dunia maya dimana para penggunanya dapat dengan mudah mencari teman, mengirim pesan, membagikan berita, dan aktivitas lainnya. Sebagai salah satu media komunikasi, media sosial tidak hanya dimanfaatkan untuk berbagi informasi dan inspirasi, tetapi juga ekspresi diri, pencitraan diri, dan ajang curhat, bahkan keluh - kesah dan sumpah - serapah. Saat ini, media sosial sepertinya sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Tua muda, pria wanita, bos besar sampai Office boy pun sepertinya sudah mengenal dan mengetahui tentang media sosial. Beberapa media sosial yang populer di Indonesia yaitu facebook, twitter, instagram, google plus, ask fm, tumblr, flickr, pinterest, path, dan beberapa sosial chat seperti bbm, line, whats app, dan lain sebagainya. Perkembangan teknologi informasi yang pesat merupakan salah satu penyebab booming nya media sosial. Zaman sekarang med...